Creating Today The Technology for Tomorrow
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

Untitled Document

V5.N5.02

JUDUL : PERHITUNGAN KEWAJARAN KEBUTUHAN BAHAN BAKAR MINYAK DI INDUSTRI

PENGARANG : Achmad Hasan
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Konversi dan Konservasi Energi
Deputi Teknologi Informasi, Energi, Material dan Lingkungan
BPP Teknologi

Abstract

The manner in which prices are passed through the various levels of gasoline, diesel fuel and petroleum markets is not uniform. While successive sellers of a product presumably act to cover their costs and make a profit, sellers vary greatly in their pricing behavior, such as reaction to competitors price changes and attempts to protect or increase market share. One of the most rerevealing aspects of this analysis is what the results do not show : there is so little difference between actual retail petroleum and diesel fuel prices and the forecast created from spot prices and observed lag patterns that there is no evidence of significant influence an aggregate retail prices beyond the spot price level. It is also useful to note some apparent differences between price pass through for gasoline and that for diesel fuel. It appears from comparing the results of the present study with previous work on diesel fuel that the results for diesel fuel are some what more consistent, producing a more accurate model.

Katakunci : BBM, Industri, Wajar, Batas Atas, Batas Bawah


SUMBER :

Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, V5. N5, Agustus 2003, hal. 6-14 /Humas-BPPT/ANY


PENDAHULUAN

Penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri merupakan suatu permasalahan yang rumit dan kompleks. Hal ini sebagai akibat dari kebijakan pemberian subsidi BBM yang diterapkan melalui pengaturan harga BBM. Untuk memprediksi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) Nasional, Pemerintah telah melakukan kegiatan survei dan verifikasi indikasi penyimpangan BBM yang selanjutnya digunakan untuk memprediksi kebutuhan BBM tahun berikutnya. Namun hasil survei yang digunakan untuk memprediksi volume kebutuhan BBM nasional tersebut belum dapat memberikan hasil yang optimal, mengingat jangka waktu pelaksanaan kegiatan yang sangat singkat sehingga sample yang digunakan sangat terbatas.

Di samping itu kebijakan harga BBM tahun 2001 berbeda dengan kebijakan harga BBM tahun 2002 di mana pada tahun 2001 harga BBM untuk umum belum terkait dengan harga pasar (fix) dan terjadinya disparitas harga BBM untuk umum dan industri (50% harga pasar). Sedangkan pada tahun 2002 harga BBM untuk umum sama dengan harga BBM untuk industri (75% harga pasar) kecuali minyak tanah untuk umum sepanjang tahun berlaku.

Harga BBM yang disubsidi menjadikan BBM tersebut di bawah harga ekonominya (tidak mengacu harga pasar) ini mengakibatkan terjadinya hal-hal sebagai berikut :

  1. Disparitas harga yang memberi peluang terjadinya penyelundupan terutama ke negara-negara tetangga.

  2. Pemberlakuan harga BBM yang berbeda untuk kelompok konsumen tertentu di dalam negeri memberi peluang terjadinya penyimpangan distribusi BBM.

  3. Disparitas harga antar jenis BBM memberi peluang terjadinya pencampuran (pengoplosan). Jenis BBM yang banyak digunakan oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah seperti minyak tanah yang diberi subsidi lebih besar (murah) dicampur dengan jenis BBM yang harganya relatif lebih mahal.

Dengan terungkapnya berbagai kasus penyalahgunaan/penyimpangan distribusi BBM, data realisasi volume penjualan BBM tidak menggambarkan volume kebutuhan riil BBM di dalam negeri. Dengan adanya penyimpangan pemakaian dan distribusi BBM telah mengakibatkan kesulitan bagi Pemerintah dalam menentukan : volume kebutuhan BBM tahun 2002 dan 2003 untuk mendapatkan persetujuan dari DPR-RI, dan jumlah subsidi BBM dalam RAPBN tahun 2002 dan 2003.


KESIMPULAN

Dari uraian di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  • Besarnya volume penyimpangan BBM ditentukan oleh harga deltanya ( D ). Bila D > 0, besarnya volume BBM yang kemungkinan diselewengkan oleh perusahaan, dijual keluar. Dan bila D < 0, perusahaan membeli BBM dari luar, bukan dari D/O Pertamina.

  • Estimasi batas atas dan batas bawah kewajaran pemakaian BBM dengan menggunakan genset di industri berdasarkan nilai praktis LF ( Load Factor ), TF ( Time Factor ), h m (efisiensi mesin), dan h G (efisiensi generator). Harga LF dan TF tergantung dari kelompok industri.

  • Kriteria kewajaran pemakaian BBM di industri ditentukan oleh harga CF ( Criteria Factor ). Nilai CF batas atas adalah 2,59, dan nilai CF batas bawah adalah 1,10.

  • Besarnya harga CF di industri yang menggunakan genset sebagai pembangkit listrik dalam satuan kwh, tergantung pada harga h m , h G , dan cos f . Estimasi batas atas dan batas bawah kewajaran pemakaian BBM pada steam boiler berdasarkan nilai praktis LF, TF, dan h B (efisiensi boiler). Kriteria pemakaian BBM wajar untuk boiler adalah : 0,30 < CF B < 0,83.