|
VV
VV.B.10
JUDUL : PENGKAJIAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI PEMANFAATAN PEMBANGKIT LISTRIK
TENAGA HIBRIDA (PLTH) PENGKAJIAN PEMANFAATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIBRIDA
(PLTH) SURYA-DIESEL DI SULAWESI
PENGARANG : ACHMAD ZATNIKA, Achmad Zatnika; Atang Sulaeman; Sri
Kartikorini; Susmarkanto; Achmad Djatnika; M. Syafri Syarief; Wisnu Alimurtono;
dan Rubi Rubini
Abstract
The provision of electricity for basic purpose could have a significant
benefit to the most of rural peoples as well as the large cities. The Agency for
the Assessment and Application of Technology – BPPT has been developed a
multiple demonstration project to supply standard and proven renewable energy
based hybrid electricity systems. This hybrid system has been installed in
several remote islands or villages of South East and Central Sulawesi, where the
electricity grid is not available. In 2002, the socio-economical analysis of the
existing hybrid system has been performed in regard to primary and secondary
data, organisational data and personnal interview with the key person
responsible for operation and management on site. This socio-economical analyses
has shown an excellent range of outcomes including cultural compatibility and
broad educational and health benefit, a clean environment impact, the provision
of one element needed to hold rural families together, improved evening lighting
for families.
Kata Kunci: Energi listrik, PLTH Surya Diesel, Sosial ekonomi masyarakat,
SUMBER :
Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003, Vol. V, hal. 156 - 164
/HUMAS-BPPT/ANY
1. PENDAHULUAN
Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya aktivitas
perekonomian, kebutuhan masyarakat Indonesia termasuk masyarakat perdesaan
terhadap energi listrik semakin meningkat.
Kebijakan Pemerintah dalam penyelenggaraan program listrik perdesaan diupayakan
untuk mendorong kegiatan ekonomi serta meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan
masyarakat di daerah perdesaan. Strategi penyediaan tenaga listrik di perdesaan
dilakukan melalui perluasan jaringan distribusi (ekstensifikasi) maupun
peningkatan penyambungan konsumen di desa yang telah berlistrik (intensifikasi).
Sedangkan untuk desa terpencil dilakukan dengan memanfaatkan sumber energi
terbarukan (Hydro, Surya, Angin) atau dengan menggunakan Pembangkit Listrik
Tenaga Diesel (PLTD).
Dari data Ditjen Listrik Dan Pemanfaatan Energi dilaporkan pada tahun 2.000 baru
49.155 desa atau sekitar 83,96 % terlistriki (1).
Berdasarkan kondisi lokasi, perdesaaan yang belum terjangkau jaringan listrik
dan terpencil, dilaporkan masih terdapat sekitar 6000 desa yang hingga 2004
diperkirakan tidak dapat dilistriki oleh PLN. (2).
Saat ini baru sekitar 53 % rumah diperdesaan yang telah berlistrik, relatif
masih rendah bila dibandingkan dengan Thailand (80%) dan Malaysia (98%).
Sehubungan dengan hal itu, maka listrik perdesaan perlu dilakukan dengan
memanfaatkan teknologi energi alternatif setempat, seperti Mini Hydro, Energi
Surya & Energi Angin. Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH)
merupakan solusi alternatif dengan cost effective karena selain bersifat
centralized system, juga dapat memanfaatkan potensi sumber energi terbarukan
yang tersedia (Surya, Hidro & Angin) untuk tujuan optimasi penggunaan/
konsumsi bahan bakar minyak (Diesel Generator).
KESIMPULAN
1.1. Kesimpulan
Penerapan Sistem PLTH Surya-Diesel yang dilakukan BPPT di perdesaan yang
terpencil dan tidak terjangkau jaringan listrik PLN adalah sangat tepat. Upaya
tersebut dapat menggerakkan perekonomian desa, sehingga masyarakatnya menjadi
lebih sejahtera dibandingkan sebelum ada listrik.
Dalam aspek sosial, budaya/ kebiasaan dan ekonomi terlihat banyak dampak
positifnya dibandingkan negatifnya. Respon masyarakat terhadap kepemilikan
listrik dengan sistem PLTH Surya-Diesel sangat tinggi, karena memberikan
keuntungan yang lebih baik dalam kehidupannya dibandingkan sewaktu belum
memiliki listrik.
Pengaruh negatif yang dijumpai diantaranya adalah pengaruh tidak langsung dari
Sistem PLTH Surya-Diesel yaitu menonton film di TV atau VCD yang tidak baik
untuk masyarakat terutama anak-anak muda. Akan tetapi hal ini telah diantisipasi
oleh para tokoh masyarakat baik formal maupun informal serta peran orang tua
melalui nasehat atau pengarahan di masjid-masjid serta pengawasan yang baik.
Respon masyarakat yang tinggi menyebabkan banyak pelanggan yang ingin menaikan
daya listriknya agar bisa dimanfaatkan untuk pemakaian barang elektronik
terutama yang baru memliliki daya 50 watt dan 100 watt. Bahkan pelanggan yang
memiliki daya 200 watt pun menuntut untuk memperoleh daya lebih dari 200 watt .
Perlu disampaikan bahwa tujuan program awal dari Sistem PLTH Surya-Diesel ini
sebelumnya adalah hanya untuk penerangan saja. Oleh karena itu untuk penerapan
PLTH selanjutnya perlu dipikirkan tidak hanya untuk penerangan saja melainkan
juga untuk keperluan usaha.
Dalam perjanjian kontrak antara pelanggan dengan pengelola dan pengelola dengan
BPPT masih perlu disempurnakan. Demikian juga kelembagaan/ manajemennya perlu
diperbaiki dan lebih ditujukan untuk komersial agar pemanfaatan PLTH
Surya-Diesel dapat berkelanjutan.
1.2. Rekomendasi
Berdasarkan hasil kajian tahun 2002 melalui pengamatan dilapangan dan studi
literatur, maka untuk penerapan dan membangun model sistem PLTH Surya-Diesel
yang berkelanjutan perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
- Penentuan Lokasi Sistem PLTH Surya-Diesel
- Kondisi Lokasi
- Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang belum atau tidak terjangkau
oleh jaringan listrik PLN dalam kurun waktu 5 tahun mendatang.
- Lokasi dapat dicapai kendaraan, baik lewat darat maupun laut untuk
pengangkutan peralatan pembangkit dan perlengkapan sistem jaringan.
- Untuk penempatan dan pengelolaan pembangkit diperlukan lahan yang
layak serta mempunyai status hukum yang jelas.
- Diutamakan pola pemukiman penduduk mengelompok dalam suatu lokasi,
mengingat sistem pembangkit PLTH Surya-Diesel bersifat terpusat
(centralized).
- Calon Pelanggan
- Penduduk desa memiliki kemampuan adaptasi dan bersedia menerima
teknologi sistem PLTH Surya-Diesel
- Adanya kemampuan dan kemauan penduduk untuk membayar biaya
pemakaian listrik sesuai dengan tarif yang diberlakukan.
- Adanya potensi masyarakat untuk mengembangkan perekonomian daerah
setempat melalui usaha industri perdesaan.
- Sosial Ekonomi dan Budaya
- Perlu dilakukan kajian sosial ekonomi dan budaya masyarakat sebelum
dilakukan penerapan sistem PLTH Surya-Diesel di setiap daerah yang
dipilih.
- perlu adanya kemampuan penduduk untuk adaptasi dan bersedia menerima
teknologi sistem PLTH Surya-Diesel.
- Untuk menetapkan desain pembangkit perlu diketahui karakteristik dan
pola penggunaan energi oleh calon pelanggan (penerangan, peralatan
komunikasi, dan atau peralatan listrik rumah tangga lainnya).
- Adanya potensi masyarakat untuk mengembangkan perekonomian daerah
setempat melalui usaha industri perdesaan.
- Perlu adanya sosialisasi (penyuluhan) berbagai aspek sistem PLTH
Surya-Diesel secara berkala untuk memotivasi rasa memiliki dan dalam
upaya meminimalkan terjadinya gejolak sosial yang muncul di masyarakat.
- Perlu adanya pelatihan cara perawatan instalasi listrik dilingkungan
rumah.
- Perlu dilakukan pengkajian dampak sosial ekonomi dan budaya sebagai
akibat adanya penerapan sistem PLTH Surya-Diesel yang meliputi; tingkat
kesejahteraan, hubungan kekeluargaan/ gotong royong/ kerjasama/
kerukunan, tingkat pendidikan dan pengetahuan,tingkat produktivitas
masyarakat, serta perkembangan perekonomian dan tingkat pendapatan
daerah/desa.
- Perlu melibatkan tokoh masyarakat baik tokoh formal maupun informal
dalam menanggulangi dampak negatif dari kehadiran sistem PLTH
Surya-Diesel terutama pengaruh film TV dan VCD akibat masuknya listrik.
- Perlu partisipasi unit untuk memberikan fasilitas penerangan terhadap
tempat umum seperti mesjid dan tempat peribadatan lainnya.
- Manajemen dan Kelembagaan
- Diperlukan adanya suatu pengelola berbadan hukum yang profesional
sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan serta memiliki keterkaitan
dengan pengambil kebijakan publik di daerah.
- Diperlukan adanya SOP (Standar Operational Procedure) pengelolaan
sistem PLTH Surya-Diesel yang ditetapkan oleh instansi berwenang sebagai
salah satu dasar pelaksanaan pengelolaan.
- Diperlukan adanya perjanjian kerjasama antara BPPT dengan pengelola
berbadan hukum tentang pengelolaan sistem PLTH Surya-Diesel yang
menyangkut hak dan kewajiban masing-masing pihak termasuk perlindungan
HaKI.
- Dalam hal pembangunan sistem pembangkit dengan menggunakan dana
bersama atara BPPT dengan pihak lain, diperlukan adanya kejelasan status
kepemilikan dan pengelolaan seluruh aset sistem PLTH Surya-Diesel dalam
bentuk perjanjian tertulis, baik menyangkut jangka waktu pengelolaan,
bagi hasil produksi, dan pengelolaan selanjutnya.
- Perlu adanya pelaksanaan sanksi yang tegas bagi pihak yang tidak
melaksanakan kewajiban sebagaimana telah diatur dalam perjanjian
kerjasama.
- Diperlukan sistem dan mekanisme pengawasan terhadap pengelolaan sistem
PLTH Surya-Diesel dengan melibatkan aparat pemerintah dan tokoh
masyarakat setempat.
- Diperlukan adanya evaluasi dan monitoring secara periodik dan
berkesinambungan oleh BPPT sebagai bahan masukan untuk pengkajian dan
pengembangan teknologi sistem PLTH Surya-Diesel lebih lanjut.
- Diperlukan personil pengelola yang handal dengan memberdayakan
masyarakat setempat melalui upaya peningkatan kemampuan teknis dan
manajerial secara berkala.
- Dalam pengadaan bahan bakar minyak (solar/minyak diesel) perlu
kerjasama dengan PLN dan Pertamina.
- Perlu dibentuk forum koordinasi pengelola di tingkat unit di setiap
cabang, dan dilakukan secara bergiliran di setiap unit serta dihadiri
oleh pengurus cabang.
- Perlu diberikan asuransi jiwa bagi pengelola unit terutama tenaga
teknisi atau operator karena listrik mengandung resiko mencelakai
petugas.
- Sarana Pendukung
- Unit pengelola Cabang dan Unit desa perlu memiliki cadangan komponen
listrik, seperti bola lampu, alat BADIKA dan peralatan ringan mesin
pembangkit (batere solar sel).
- Memiliki Ruang kantor dan gudang peralatan.
- Memiliki alat komunikasi / radio jarak jauh (SSB).
- Memiliki cadangan bahan bakar diesel (minyak solar)
|