Balai Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Balai IPTEKnet) BPPT
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

VV

VV.B.09

JUDUL:
PENGKAJIAN MEKANISME DIFUSI TEKNOLOGI TEPAT GUNA PERTANIAN 

PENGARANG : Wisman Indra Angkasa, Bambang Risdianto, Kasman
Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi - PKT

Abstract
Teknologi tepat guna (TTG) merupakan salah satu bentuk teknologi yang dipakai untuk meningkatkan produk dari usaha kecil dan menengah, seperti produk yang bersifat kerakyatan. Bermacam-macam mekanisme difusi telah diterapkan oleh penghasil teknologi kepada masyarakat, tetapi tingkat keberhasilannya masih rendah, sehingga banyak teknologi tepat guna yang dihasilkan tidak terpakai oleh masyarakat alias mubazir. Menyadari hal tersebut diatas, maka tidak berlebihan apabila proses keputusan mendifusikan TTG bagi masyarakat mendapat ruang kajian yang khusus, sehingga dapat dihindari kemubaziran bantuan teknologi tersebut. Didalam menentukan keberhasilan mekanisme difusi yang dipakai dan untuk mengetahui kecepatan difusi atau adopsi inovasi TTG pertanian dalam masyarakat dilakukan dengan mengukur dua aspek, yaitu tingkat penerapan dan waktu yang diperlukan dalam mengadopsi TTG tersebut. Kesimpulan yang didapat dari kajian ini adalah bahwa didalam menerapkan dan mengembangkan serta menyebarluaskan teknologi tepat guna, maka wajib sebelumnya dilakukan studi kelayakan untuk menilai aspek spek kelayakan teknis, aspek kelayakan ekonomis, aspek kelayakan sosial budaya dan lingkungan dan standardisasi teknologinya.

Katakunci: mekanisme, penerapan, TTG, difusi, lembaga litbang.

SUMBER : 
Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003, Vol. V, hal. 140 - 155 /HUMAS-BPPT/ANY


1. PENDAHULUAN


Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan meningkatkan daya guna potensinya. Keberhasilan difusi teknologi dipengaruhi oleh empat faktor penting, yakni inovasi itu sendiri, bagaimana informasi tersebut dikomunikasikan, waktu yang dibutuhkan untuk mengkomunikasikan, dan sistem sosial masyarakat (termasuk keterampilan) serta kondisi alam tempat inovasi tersebut diintroduksikan . Di samping itu, faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses difusi adalah jenis teknologi yang didifusikan serta sistem kelembagaan yang mendukungnya. 
Jenis teknologi yang didifusikan akan mempengaruhi mekanisme difusinya. Misalnya untuk teknologi informatika akan memilki mekanisme yang berbeda dengan teknologi pertanian. Walaupun demikian, difusi suatu teknologi yang telah berhasil kemungkinan mekanismenya dapat diterapkan pada jenis teknologi lainnya, tentu saja dengan terlebih dahulu memodifikasikan beberapa aspeknya. 
Bermacam-macam variasi mekanisme difusi yang telah diterapkan oleh para penghasil teknologi kepada masyarakat . Tetapi sampai saat ini tingkat keberhasilannya masih relatif rendah, sehingga banyak teknologi tepat guna yang dihasilkan tidak terpakai oleh masyarakat yang membutuhkan alias mubazir.
Difusi teknologi pada dasarnya terjadi melalui beberapa saluran : 1) Difusi teknologi antar perusahaan; 2) Difusi teknologi antar unit dalam perusahaan; 3) Difusi teknologi antar penyedia teknologi dengan pengguna; dan 4) Difusi teknologi antar lembaga litbang dengan pengguna 

Pertanian merupakan sektor yang menunjukan keberhasilan dalam proses difusi teknologi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya teknologi pertanian yang digunakan oleh masyarakat. Teknologi tepat guna (TTG) merupakan salah satu bentuk teknologi yang dipakai untuk meningkatkan produk dari usaha kecil dan menengah, bahkan produk yang bersifat kerakyatan. TTG pada bidang pertanian adalah salah satu contoh dari jenis TTG tersebut, sehingga sudah selayaknya untuk dikembangkan. Hal ini mengingat sektor pertanian masih menduduki tempat strategis untuk mengimbangi kebutuhan pangan yang terus meningkat. Terlebih hampir seluruh masyarakat Indonesia menggunakan beras sebagai makanan pokok. Lembaga yang dinilai telah berhasil melakukan proses difusi teknologi tepat guna bidang pertanian tersebut antara lain adalah instansi pemerintah (dalam hal ini Departemen Pertanian) dan instansi non-pemerintah, baik industri maupun LSM. Keberhasilan difusi teknologi pertanian di masyarakat, tidak terlepas dari menisme difusi yang digunakan lembaga pelaku difusi dalam mentransformasikan inovasinya. 


KESIMPULAN

Dari hasil pengkajian mekanisme difusi teknologi tepat guna pertanian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Keberhasilan kegiatan penelitian dan pengkajian (litkaji) pertanian ditentukan oleh tingkat pemanfaatan hasilnya oleh pengguna sasaran.
  2. Difusi hasil-hasil litkaji kepada petani-nelayan, pihak swasta dan pengguna lain perlu dilakukan melalui media yang tepat dan terus menerus.
  3. Dalam menerapkan dan mengembangkan serta menyebarluaskan teknologi wajib dilakukan studi kelayakan untuk menilai aspek : aspek kelayakan teknis, aspek kelayakan ekonomis, aspek kelayakan sosial budaya dan lingkungan
  4. Didalam penerapan TTG kepada masyarakat baik yang melalui mediator ataupun langsung dari penghasil TTG sekitar 40 % mengalami kegagalan atau mubazir dan hanya 60 persen yang berhasil. Selebihnya 10 % dari TTG yang diterapkan kepada masyarakat mengalami kegagalan/mubazir dan 90 % berhasil dan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan pengguna.

PENUTUP
Keberhasilan kegiatan diseminasi teknologi dan informasi pertanian tercermin dari tingkat penggunaan/penerapan teknologi dan informasi yang didiseminasikan, tingkat pembaharuan teknologi dan informasi yang telah dan atau sedang digunakan oleh pengguna, meluasnya, penggunaan/penerapan informasi teknologi tersebut di kalangan penggunaannya, peningkatan kemampuan pengguna dalam pelaksanaan tugas/pekerjaan pokoknya, serta peningkatan kesejahteraan pengguna yang dicapai dengan penerapan/penggunaan teknologi dan informasi yang didiseminasikan. Keberhasilan kegiatan ini tidak diperoleh hanya dari satu kegiatan diseminasi, tetapi dari berbagai kegiatan yang saling mendukung, dan memerlukan waktu untuk memperolehnya. Walaupun demikian, keberhasilan kegiatan diseminasi teknologi dan informasi pertanian perlu diketahui melalui kegiatan tersendiri, ialah kegiatan pengkajian dampak diseminasi teknologi dan informasi pertanian yang baru bisa dilakukan setelah 3 tahun kegiatan diseminasi dilakukan dan secara kontinyu dapat dilakukan setiap 2 3 tahun sekali.