Creating Today The Technology for Tomorrow
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

Untitled Document

V5.N5.15

JUDUL : PENGGUNAAN CONTROL INTERNAL DRUGS RELEASE DAN OVALUMON DALAM SINKRONISASI BERAHI DOMBA GARUT

PENGARANG : Herdis dan Ida Kusuma
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Budidaya Pertanian
Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT
Gd. BPPT II Lt. 16, Jln. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Abstract

Heat synchronization is a technique to stimulate an animal or a flock of animal perform heat period simultaneously. In the application of artificial insemination technology, the synchronization program is needed to obtain reproduction efficiency and to adjust productivity to fulfill the market demand. The experiment was carried out to observe the effect of Control Internal Drugs Release (CIDR) contain progesterone and the combination of CIDR and Ovalumon contain estrogen. The result indicated that all treatment with CIDR or its combination with ovalumon respon positively to the heat period of garut sheep. After the synchronization with intravaginal CIDR for 12 days period, the heat appeared 31,83 ± 3,82 hours after the refusal of CIDR, while the intravaginal CIDR for 12 days combined with intra muscular ovalumon on 13 th days, shown the heat 29,83 ± 3,37 hours after CIDR refusal. There are no significant different between treatment of CIDR and the combination of CIDR and ovalumon.

Kata kunci : sinkronisasi berahi, CIDR, ovalumon dan domba garut.

SUMBER : Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, V5. N5, Agustus 2003, hal. 120-125 /Humas-BPPT/ANY


PENDAHULUAN

Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu teknologi pada bidang bioteknologi peternakan yang cocok diterapkan dan sesuai dengan kondisi peternakan di Indonesia saat ini. IB digunakan sebagai alat untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak secara aktif progresif.

Salah satu penyebab rendahnya keberha-silan teknologi IB antara lain disebabkan karena pelaksanaan IB pada waktu yang tidak tepat. Berahi yang terjadi tidak serentak dalam suatu kelompok ternak merupakan kendala utama dalam pelaksanan IB. Guna mengatasi kesulitan dalam deteksi berahi, telah dikembangkan suatu teknologi yang dapat digunakan untuk mengendalikan berahi yang dikenal dengan teknologi sinkronisasi berahi (1) .

Sinkronisasi berahi adalah suatu teknik agar seekor atau sekelompok ternak mengalami berahi sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dengan cara ini sekelompok ternak dapat dimunculkan berahinya secara serentak atau hampir bersamaan. Sinkronisasi berahi dilakukan dengan tujuan efisiensi dan penyesuaian produksi dengan kebutuhan pasar. Bila berahi muncul serentak, musim perkawinan dapat dipersingkat sehingga dapat menghemat biaya terutama bila perkawinan dilakukan dengan menggunakan teknologi inseminasi buatan (2) . Teknik sinkronisasi berahi sangat berguna terutama pada peternakan yang menggunakan sistim ekstensif dimana ternak digembalakan pada padang rumput dan jarang dilihat dan dikandangkan.

Dasar fisiologis dari sinkronisasi berahi adalah hambatan pelepasan Luteinizing Hormone (LH) dari hipofisis anterior yang menghambat pematangan folikel de Graaf atau penyingkiran corpus luteum baik secara manual atau secara fisiologis dengan pemberian preparat hormon luteolitik. Karena progesteron dapat menghambat pelepasan LH, pertumbuhan folikel, berahi dan ovulasi maka progesteron merupakan preparat pertama yang dipakai untuk sinkronisasi berahi (3) .


KESIMPULAN

Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

  1. Kedua perlakuan, CIDR dan kombinasi CIDR dengan ovalumon memberikan respon berahi pada domba Garut.

  2. Pada program sinkronisasi berahi yang menggunakan hormon progesteron dalam bentuk CIDR yang disimpan selama 12 hari secara intravagina, berahi muncul 31,83 ± 3,82 jam setelah pencabutan CIDR.

  3. Pada program sinkronisasi berahi kombinasi hormon progesteron dalam bentuk CIDR yang disimpan selama 12 hari secara intravagina dan hormon estrogen dalam bentuk “ovalumon” secara intra muskuler pada hari ke 13, berahi muncul 29,83 ± 3,37 jam setelah pencabutan CIDR.

Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara penggunaan CIDR dan kombinasi antara CIDR dan ovalumon.