Balai Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Balai IPTEKnet) BPPT
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

Untitled Document

V5.N5.09

JUDUL : SIKAP SANTRI TEBUIRENG TERHADAP BIOGAS

PENGARANG : Susmarkanto
Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Unggulan Daerah dan Pengembangan Kapasitas Masyarakat,
PKT BPPT, Jl. MH Thamrin 8 Jakarta, Gedung II lantai 12


Abstract

One of environmental problem faced by Indonesia to day in poor condition of environmental institution, expecially in terms of the exsposal of human focus. In order to address such issue/problems, BPPT through the program of regional scirence and technoligy 2001 (IPTEKDA 2001) has conducted the assisment and implementation of technology in biology in biological gas (biogas) at Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. The biogas technology transforms the human facies produced by the member of the institution (santri) into on alternative energy re sources as well as organic compost. With the existense of biogas, not only the Santri's are expected to benefit from gething a renewable energy resources for cooking and lights. They are also expected to be able to make use of Biogas need as agood verkliser for their crops and plentation, improving their hiegenic level (prevented from deseases).However, one of the obstaclis is thet human focus is cinsidered to be najis or un holy or un clean in the view of religious Islamic Law. Hince, in order to promote the succes of Biogas technology within the pesantren environment a socio cultural study must before conducted. In this study, the focus of socio cultural study is santry's behavior in faescing and their knowledge and attitude fowards the exelence of Biogas in their Pesantren Environment.

Kata kunci : biogas, santri dan najis

SUMBER : Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, V5. N5, Agustus 2003, hal. 66-74 /Humas-BPPT/ANY

PENDAHULUAN

Berbagai isu sentral mengenai masalah lingkungan hampir dapat dipastikan akan terus mewarnai kehidupan manusia. Bahkan menurut Minor (Kompas, 2001), masalah lingkungan hidup tampaknya masih menjadi kata kunci dalam beberapa dekade terakhir ini. Salah satu masalah lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah masih rendahnya kondisi sanitasi lingkungan, terutama masalah yang berkaitan dengan pembuangan air kotor (tinja) manusia.

Kecenderungan masyarakat baik di daerah perdesaan maupun perkotaan dalam membuang limbahnya ke sungai telah menjadi adat kebiasaan. Konsepsi sungai sebagai tempat pembuangan limbah atau sampah tampaknya sudah melekat dalam alam pikiran manusia masa kini. Buangan limbah manusia yang berbaur dengan sampah rumah tangga, detergen dan sisa minyak terlihat jelas disetiap pintu air, tiang/tonggak jembatan dan muara sungai. Sedangkan perilaku (menyimpang) masyarakat dalam membuang tinjanya di sungai terlihat dengan semakin banyaknya WC terapung (helikopter) yang dibangun di sepanjang badan sungai. Tinja memang dapat larut dalam air sungai tetapi bakterinya berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Akibatnya, banyak masyarakat yang biasa mandi dan cuci di sungai menderita penyakit kulit (gatal-gatal).

Hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS, 1999), menunjukkan bahwa sekitar 24,41 persen rumah tangga di Indonesia masih membuang/mengalirkan limbah (tinjanya) ke sungai. Dalam konteks ini, Ward et.al (Kompas,idem) menilainya sebagai suatu paradoks , disatu pihak manusia memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, cuci dan sumber air minum, tetapi dilain pihak mereka mempergunakan sungai sebagai tempat untuk membuang limbah dan kotorannya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil kajian sosial budaya tentang perilaku santri dalam buang air besar (b.a.b) dan tingkat pengetahuan terhadap kebersihan lingkungan dan kesehatan serta sikapnya terhadap keberadaan gasbio, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Sistem sanitasi lingkungan, di Pondok Pesantren Tebuireng, belum memenuhi persyaratan sebagai sarana sanitasi yang berwawasan lingkungan dan kesehatan, karena sistem pembuangan tinjanya tidak ditampung di septik tank (bak penampung), melainkan dibuang / digelontorkan ke sungai. Kondisi seperti itu dapat menimbulkan pencemaran perairan sungai dan aroma (bau) yang tidak sedap serta menjadi sumber berjangkitnya berbagai jenis penyakit yang sering diderita para santri dan masyarakat sekitarnya, seperti : diare, tifus dan gatal-gatal.

  2. Teknologi gasbio, merupakan salah satu alternatif solusi terhadap permasalahan diatas. Dengan adanya gasbio, diharapkan para santri setempat mendapatkan manfaat ganda, yaitu : memperoleh sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik (lampu penerangan) dan memasak (sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah untuk kompor), tetapi juga dapat memanfaatkan lumpur gasbio sebagai pupuk untuk meningkatkan produksi tanaman, sekaligus dapat meningkatkan derajat kesehatan (terhindar dari penyakit). Kendala-nya, kotoran atau tinja baik yang berasal dari hewan maupun manusia, dipandang dari syariat (hukum) Islam adalah najis. 

  3. Sikap para santri terhadap kehadiran gasbio di lingkungannya bersifat mendua (ada yang setuju dan tidak setuju/ragu-ragu). Namun perbedaan pendapat dan persepsi ini tidak menimbulkan gejolak sosial. Mereka pada umumnya terbuka dan toleran terhadap inovasi/teknologi baru asalkan bermanfaat bagi kehidupan manusia dan tidak melanggar atau menyimpang dari norma-norma agama (Islam) yang dianutnya.

Para santri banyak yang belum memahami tentang seluk beluk teknologi gasbio, karena merupakan sesuatu hal yang baru bagi mereka. Sehubungan dengan itu, maka sebelum terealisir pembangunan gasbio, perlu terlebih dahulu dilakukan penyuluhan (sosialisasi) dan pelatihan dengan melibatkan mereka sebagai subyek bukan sebagai obyek (penonton).