Creating Today The Technology for Tomorrow
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

Untitled Document

V4.n5.03

JUDUL : MENINGKATKAN PRODUKSI INDUSTRI KECIL SAGU MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI EKSTRAKSI SEMI MEKANIS

PENGARANG : M. Yusuf Samad


Abstract

Conventional extraction method of handling sago flour (dried starch) that habitually accepted by home-based industries make usually low productivity. Semi-mechanical extraction method is a system which had a several process (dextruction, mixing and filtering) moved by engine power are requaired to increase of productivity and quality of product. In Kendari regency, experiment by semi-mechanical extraction showed that handling 1,5 ton of raw material (sago pith) produced 300 kg dried starch/8hours with effeciency of 80% or 90 ton/year (handling frequency of 300). The same number of raw material, conventional extraction produced only 600 kg wet starch in egual 250 kg dried starch /6days with effeciency of 67% or 6 ton/year (handling frequency of 24).

Katakunci : Sagu, ekstraksi, produksi, industri kecil


Sumber :

Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.4, No.5, (Agustus 2002), hal. 11-17 Humas-BPPT/ANY

PENDAHULUAN

Sagu adalah salah satu sumber karbohidrat yang mencakup potensial dalam pengertian bahwa Indonesia memiliki hamparan hutan sagu seluas lebih 1 juta hektar. Pada beberapa kali simposium sagu baik nasional maupun internasional menunjukkan bahwa Indonesia termasuk satu dari 2 negara yang memiliki areal sagu terbesar di dunia selain Papua Nugini. Areal sagu seluas ini belum di eksploitasi secara maksimal sebagai penghasil tepung sagu untuk bahan kebutuhan lokal (pangan) maupun untuk komoditi ekspor. Sangat rendahnya pemanfaatan areal sagu yang hanya sekitar 0,1% dari total areal sagu nasional disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu sebagai akibat dari rendahnya kemampuan dalam memproduksi tepung sagu melebihi kebutuhan masyarakat lokal, rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi bentuk-bentuk produk lanjutannya, kondisi geografis dimana habitat tanaman sagu umumnya berada pada daerah marginal/rawa-rawa yang sukar dijangkau, serta adanya kecenderungan masyarakat menilai bahwa pangan sagu adalah tidak superior seperti halnya beras dan beberapa komoditas karbohidrat lainnya. Untuk pembenahan masalah tersebut dalam jangka pendek realistis dapat dilakukan adalah pembenahan terhadap keterbatasan kemampuan masyarakat dalam memproduksi tepung sagu. Jika masyarakat memiliki teknik dan ketrampilan memadai maka produk sagu akan menjadi bahan berharga, digemari masyarakat luas dan dapat menjadi komoditas bisnis. Dalam kondisi demikian dampak dari faktor lainnya akan menjadi lebih ringan. Masalah keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang teknik pengolahan sagu tercermin dari rendahnya produksi tepung sagu masyarakat sebagai akibat penggunaan alat yang masih konvensional seperti alat penokok/ penggerak/mesin parut dan alat proses lainnya yang tidak sesuai dengan morfologi dan sifat fisik-kimia sagu. Selain rendahnya kapasitas produksi, tenaga manusia sebagai penggerak cukup besar dan melelahkan. Survai ke tempat pengrajin sagu di Kabupaten Kendari menunjukkan bahwa untuk mendapatkan ± 30 “basong sagu” (1 basong = ± 20 kg sagu basah yang dikemas dengan daun sagu) dipekerjakan 4 orang untuk mengolah 2 pohon sagu selama 6 hari. Jika setiap basong setara dengan 8,33 kg sagu kering dengan harga ± Rp.1.500/kg maka pendapatan kotor setiap orang hanya berkisar Rp.6.250/hari dengan kapasitas olah 4 pohon/bulan (usaha sampingan).

Kalau petani dapat bekerja 300 hari per tahun secara rutin (usaha pokok) maka pendapatan petani menjadi Rp.25.000 per hari atau naik 4 kalinya. Bandingkan jika menggunakan alat semi mekanis dimana 2 pohon sagu tersebut dapat diolah dalam 1 hari menghasilkan ± 300 kg tepung sagu kering. Dengan demikian pendapatan petani dapat meningkat kurang lebih menjadi Rp.75.000/hari yang lebih berarti naik 12 kali dari keadaan saat ini. Dari kasus tersebut diatas jelas bahwa pembenahan masalah rendahnya pengetahuan masyarakat pengrajin sagu terhadap teknik pengolahan sagu merupakan hal yang sangat penting dan diprioritaskan. Caranya adalah menciptakan suatu usaha atau metode ekstraksi tepung sagu yang lebih efesien dari yang ada saat ini di masyarakat. Sentuhan teknologi dibuat sedemikian rupa sehingga potensi areal sagu yang cukup luas itu dapat di manfaatkan sebagai potensi bahan baku yang dapat diolah secara seimbang untuk memproduksi tepung sagu siap pakai. Sentuhan teknologi tersebut dapat dilakukan melalui alat ekstraksi tepat guna (murah, efesien dan praktis). Tulisan ini bertujuan memperkenalkan cara penerapan teknologi ekstraksi yang dapat meningkatkan produksi tepung sagu pada industri kecil/masyarakat pengrajin sagu seperti yang telah diujicobakan di Kabupaten Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

  • Teknologi ekstraksi merupakan cara untuk mengeluarkan/melepaskan pati dari serat (sel) tanaman dengan bantuan air. Cara ini merupakan rangkaian kegiatan penghancuran empulur, pembuatan slurry , pengadukan, penyaringan dan pengendapan.

  • Ekstraksi (pengolahan) pati sagu yang dipakai oleh industri kecil/pengrajin sagu adalah ekstraksi tradisional memiliki keseluruhan kegiatan tersebut diatas yang digerakan dengan tenaga manusia (manual) sehingga memiliki produktivitas yang rendah. Sebaliknya ekstraksi pati sagu yang memiliki sebagian kegiatan yang digerakkan dengan tenaga mekanis produktivitasnya tinggi.

  • Dalam ujicoba penerapan teknologi ekstraksi semi mekanis (kapasitas olah 1,5 ton empulur/ hari) akan memiliki keunggulan dibanding ekstraksi tradisional yang juga diberi bobot empulur yang sama. Keunggulan tersebut berupa waktu proses lebih singkat, efisiensi proses lebih besar dan hasil olahan (pati kering) juga lebih besar. Kondisi ini di sebabkan pemakaian alat proses terutama kinerja parut yang mampu menghancurkan empulur sagu dibawah 0,5 cm sehingga pati sagu mudah terbawa ke fase air pada waktu pengadukan.

  • Penerapan teknologi ekstraksi semi mekanis juga mampu memperbesar tingkat produksi sebesar 90 ton pati kering/th atau 15 kali lebih besar dibanding dengan ekstraksi tradisional. Dengan nilai jual pati kering sebesar Rp.1.500 /kg maka tingkat pendapatan pengrajin yang menggunakan ekstraksi semi mekanis akan mencapai Rp.75.000/orang/hari atau 12 kali lebih besar dibanding pengrajin yang menggunakan ekstraksi tradisional.

2. S a r a n

  • Penerapan teknologi ekstraksi semi mekanis yang telah di ujicoba di Kabupaten Kendari tersebut memiliki fungsi pelatihan terhadap para pengrajin tradisional, sehingga bahan-bahan konstruksi dipilih yang kuat dan mahal. Investasinya cukup besar untuk keperluan industri kecil. Untuk keperluan pengembangannya disarankan modifikasi bentuk, jenis dan kapasitas prasarana/ sarananya sehingga investasinya ditekan sekecil mungkin tanpa menyebabkan perubahan yang berarti terhadap kinerja yang telah ada.

Tingkat produksi pada penggunaan ekstraksi semi mekanis jauh lebih besar dibanding dengan ekstraksi tradisional. Hal ini tidak semata-mata disebabkan penggunaan tenaga mesin pada beberapa bagian proses pengolahan tapi juga disebabkan oleh cara kerja pengrajin yang tidak rutin/kerja sampingan. Disarankan agar ada lembaga profesi yang menangani hasil olahannya berapapun jumlahnya sehingga dapat merangsang masyarakat/pengrajin sagu menekuni usahanya secara rutin.