Balai Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Balai IPTEKnet) BPPT
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

Untitled Document

V4.n4.08

JUDUL : Analisis Kandungan Teknologi Komoditas Kelapa, Ikan, Cengkeh dan Pala di Kawasan Andalan Sangihe Talaud

PENGARANG : Sri Handoyo Mukti

Abstract

Kabupaten Sangihe Talaud is an archipelagoes district in the North of North Sulawesi Province. Coconut, Fish, Clove and Nutmeg are the major products and are sold as raw materials. The fraction of technology content from the total added value of the commodities are evaluated in this paper to get the input for developing strategies of regional development. Technology contribution of these comodities from the added value are very low, it is about: 0,21 for Coconut and 0,18 0,19 for Fish, Clove and Nutmeg.

Kata kunci : Kebijakan, teknologi

SUMBER :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, Vol.4, No.4 (Juli 2002), hal. 72-82 /HUMAS-BPPT/ANY


PENDAHULUAN

Kabupaten Sangihe Talaud terletak di utara Provinsi Sulawesi Utara dan berbatasan langsung dengan Philipina Selatan. Komoditi andalan saat ini adalah kelapa, ikan, cengkeh, dan pala. Dalam makalah ini akan dianalisis kandungan teknologi komoditi-komoditi tersebut untuk mengetahui sampai sejauh mana pemanfaatan teknologinya sehingga dapat diperkirakan usaha-usaha peningkatan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dari produksi sektor ini. Komponen teknologi yang akan dianalisis adalah Technoware, Humanware, Orgaware dan Infoware.

KESIMPULAN

Dari hasil perhitungan yang dilakukan diperoleh hasil TCC terbesar adalah dari perkebunan kelapa (0,21) sedangkan jenis kegiatan lainnya nilainya adalah antara 0,18 0,19. Hal ini menunjukkan secara umum kontribusi teknologi masih sangat rendah sumbangannya terhadap added value. Dengan demikian masih terbuka lebar masukan teknologi untuk menambah added value dari hasil alam di Sangihe Talaud.

Kalau kita lihat lebih rinci lagi, nilai kontribusi terendah adalah orgaware, dimana hal ini mengindikasikan kurangnya kelembagaan riset yang dapat memacu percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Kemudian, Inforware juga sangat lemah baik dalam informasi mengenai pengembangan sektor maupun informasi pasar. Begitu juga humanware sangat rendah karena sebagian pekerja mempunyai pendidikan SD dengan keahlian khusus yang minim. Untuk teknoware, walaupun kontribusinya paling besar diantara komponen teknologi lainnya, tapi nilainya masih sangat rendah, terlihat dari masih manualnya usaha industri yang dilakukan. Hal ini membuka masuknya teknologi yang akan meningkatkan nilai tambah tanpa harus mendatangkan tenaga kerja dari luar untuk pengembangan industrinya.

Model teknometrik yang diterapkan disini merupakan modifikasi prosedur perhitungan yang dikembangkan oleh ESCAP karena minimnya data dan informasi hasil survai yang terkumpul. Modifikasi terutama dilakukan dalam menentukan State of the art dari komponen teknologi yang sangat disederhanakan, mengingat industri-industri di Sangihe Talaud saat ini belum berkembang. Dari sudut pandang pengguna, analisis kandungan teknologi dapat dimanfaatkan dalam 5 hal:

Pertama, analisis dapat digunakan untuk perbandingan antar perusahaan dari perspektif teknologi. Dengan menggunakan analisis kandungan teknologi, dapat dihindari adanya distorsi dari shadow prices .

Kedua, nilai state of the art dari Technoware, Humanware, Inforware dan Orgaware dapat digunakan untuk mengevaluasi kapabilitas teknologi dari 4 komponen teknologi. Sebagai contoh, STi dapat digunakan untuk mengukur kapabilitas dari Technoware-nya, SHj untuk humanware-nya, SI untuk Inforwarenya dan SO untuk Orgaware-nya.

Ketiga, jika dua fasilitas transformasi teknologi dibandingkan dengan menggunakan model teknometri, jika pengembangan salah satunya lebih baik dari lainnya, maka hal ini dari perspektif teknologi akan terukur dengan melihat perbedaan komponen-komponen teknologinya. Penyebab adanya kesenjangan teknologi di keempat komponennya dapat ditelusuri pada tingkat sophistikasinya serta kriteria state of the art nya. Informasi ini dapat digunakan untuk merencanakan perbaikan pengukuran atau program-program perbaikan jika penyebab adanya kesenjangan diketahui.

Keempat, intensitas komponen kontribusi (nilai beta) dapat menjadi alat untuk prioritas usaha-usaha perbaikan teknologi. Dari nilai TCC dapat dilihat bahwa komponen dengan nilai beta paling tinggi akan menaikkan nilai TCC yang tinggi pula jika dilakukan perbaikan. Jadi sumber-sumber daya yang ada dapat dialokasikan berdasarkan nilai intensitas kontribusi komponennya.

Yang kelima (terakhir) adalah nilai TCC dapat digunakan untuk mengevaluasi kandungan teknologi suatu fasilitas transformasi dalam suatu negara. Sebagai contoh jika ada investor asing akan masuk disuatu negara berkembang, maka jika nilai TCC dari teknologi yang dibawanya tinggi, maka investor itu akan diberikan kebebasan untuk mengembangkan investasinya, kebalikannya jika nilai TCC nya rendah maka investor tersebut haruslah dibatasi dan dimasukkan kedalam suatu kawasan khusus ekspor.

PENUTUP

Manfaat analisis kandungan teknologi untuk pengambilan keputusan secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:Pertama, perhatian harus diberikan pada kenyataan sebenarnya bahwa analisis tradisional level perusahaan dan industri tidak menyediakan data yang cukup dalam aspek teknologi. Jika teknologi sudah disepakati sebagai kunci pembangunan ekonomi, maka pengukuran basis teknologi secara eksplisit dapat dilakukan. Analisis TCC dan TCA dapat menjadi supplement bagi analisis nilai tambah konvensional dan dapat menyediakan informasi untuk perencana dan pengambil kebijakan.

Kedua, semakin tinggi nilai kandungan teknologi, semakin kompetitif suatu produk di pasar internasional. Dari sisi ini tidak hanya perbandingan TCC yang dipentingkan tapi identifikasi kesenjangan serta usaha-usaha untuk memperbaiki status teknologinya.

Ketiga TCC membutuhkan pengumpulan informasi dari berbagai tipe industri. Beberapa informasi tidak tersedia di negara-negara berkembang. Jadi pengumpulan iinformasi seperti ini akan banyak membantu perencana teknologi untuk memilih teknologi yang paling cocok. Kompilasi informasi ini secara sistematik akan dapat meningkatkan nilai tawar negara berkembang dalam negosiasi alih teknologi.

Keempat (terakhir), akan lebih berguna lagi apabila analisis TCC dilengkapi dengan analisis Benefit-Cost sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi perencana dan pengambil kebijaksanaan untuk mengembangkan teknologi dengan nilai TCC yang tinggi tapi masih terjangkau secara ekonomi.