Creating Today The Technology for Tomorrow
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

Untitled Document

V3 n4.04

Judul: Dinamika Kualitas Perairan Di Muara Jangari-Bendungan Cirata

Pengarang : Yudhi Soetrisno GARNO

Abstract

It has been known that Jangari is an area in Cirata reservoir that could be developed as tourism area. Lately, in this area have been developing many cages for fish culture that produce organic waste in huge number and polute this area. This research was conducted to know the status and dynamic of water quality in Jangari that receive organic waste in huge number. Conclusion of the research is that Jangari water body could be cited as an eutrophic water body. This conclusion was due to (i)-the concentrations of phosphorus was always higher than 0,016 mg · l -1 P and nitrogen total was always higher than 0,711 mg · l -1 N; (ii)-the density of fitoplankton in 25 cm depth was between 36.590 · 10 3 and 40.710 · 10 3 ind · l —1 ; whereas in 150 cm depth was between 29.620 · 10 3 and 36.370 · 10 3 ind · l —1 . This phytoplankton community was dominated by Cyanophyta (70,9%-78,2%); (iii)-the vanishing point of secchi disc was always smaller than 71 cm. Although the community of phytoplankton was dominated by cyanophyta, especially Microcystis sp dan Oscillatoria sp that have been known as an unpalatable algae but the presence of zooplankton in the water body could be detected. During the research zooplankton was dominated by copepoda, cladosera and rotifera with density fluctuate between 34-394 ind · l —1. The eutrophic status for Jangari, will threaten the sustainable potency for tourism area; and therefore it was suggested to build one management for Cirata reservoir which could be hoped to plan, do and evaluate the development of Cirata appropriate to the potency and carryng capasity of reservoir.

Katakunci : Jangari,buangan organik, fitoplankton, eEutrophic.

SUMBER :

Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, Vol.3, No.4 (Juli 2001), hal. 19 –27 /HUMAS-BPPT/ANY

PENDAHULAN

1.1 Tinjauan Pustaka.

Waduk Cirata yang memiliki daerah tangkapan seluas 603.200 Ha dan volume rata-rata sekitar 2.165 x 10 6 m 3 adalah salah satu waduk di sungai Citarum, yang terletak diantara waduk Saguling dan waduk Jatiluhur 1) . Selain sebagai pembanglkit tenaga listrik, waduk Cirata juga mempunyai potensi lain seperti perikanan, irigasi perhubungan dan wisata. Selain untuk wisata, potensi lain yang ada telah berkembang dengan pesat, bahkan untuk potensi perikanan cenderung telah berkembang secara berlebihan sehingga mengancam keberlanjutannya.

Jangari adalah salah satu kawasan di tepian waduk Cirata yang diakui memiliki potensi wisata. Kawasan Jangari kini telah dipenuhi oleh keramba jala apung (KJA) tempat penggemukan ikan; yang diketahui dengan pasti menghasilkan limbah organik dalam jumlah yang besar 2) . Selain dari KJA, perairan Jangari juga mendapatkan supplai nutrien dari sungai yang bermuara padanya yang membawa limbah pemukiman dan kegiatan pertanian yang dilaluinya..

Masuknya nutrien kedalam badan air, termasuk perairan Jangari akan langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya 3) . Tidak semua fitoplankton mempunyai kemampuan yang sama dalam memanfaatkan nutrien yang tersedia 4,5,6) , sehingga kecepatan tumbuh setiap jenis fitoplankton dalam suatu badan air berbeda, dan akibatnya struktur komunitas dan dominasi fitoplankton dalam suatu badan air selalu berubah. Kilham dan Kliham 7) mengungkapkan bahwa dominasi suatu jenis fitoplankton pada suatu perairan lebih banyak ditentukan oleh perbandingan jenis nutrien; utamanya nitrogen fosfor dan silika terlarut; daripada kelimpahan nutrien itu sendiri. Berdasarkan fenomena itulah maka selain sifat fisik dan kimia air, fitoplankton juga sering dimanfaatkan untuk menganalisis status kualitas perairan; termasuk perairan waduk.

KESIMPULAN DAN SARAN

Menyimak pembahasan hasil penelitian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa perairan Jangari yang merupakan bagian dari waduk Cirata,

  • berdasarkan kandungan fosfor yang selalu lebih besar dari 0,016 mg · l -1 P, dan total nitrogen inorganik (NH 4 + -N + N O 3 — N + NO 2 -1 -N) yang selalu lebih besar dari 0,711 mg · l -1 N telah tergolong perairan yang eutropik.
  • konsentrasi nutrien yang tinggi tersebut telah memacu pertumbuhan fitoplankton hingga mencapai kelimpahan yang tinggi; yakni dipermukaan (25 cm) berkisar antara 36.590 · 10 3 dan 40.710 · 10 3 ind · l —1 (tiga puluh enam juta lima ratus sembilan puluh ribu dan empat puluh juta tujuh ratus sepuluh ribu individu per liter), dan di kedalaman 150 cm berkisar antara 29.620 · 10 3 dan 36.370 · 10 3 ind · l —1 (dua puluh sembilan juta enam ratus dua puluh ribu dan tiga puluh enam juta tiga ratus tujuh puluh ribu per liter).
  • Nilai kelimpahan yang sangat tinggi tersebut belum pernah dilaporkan oleh peneliti lain, karena metode yang dilakukan berbeda.
  • Tingginya kelimpahan fitoplankton inilah yang menyebabkan kecerahan air di Jangari selalu < 71 Cm yang oleh beberapa pakar limnologi digolongkan sebagai perairan yang hipertrofik.
  • Kesimpulan yutrofik diperkuat dengan kenyataan bahwa selama penelitian fitoplankton didominasi oleh cyanofita (70,9%-78,2%), utamanya Microcystis sp dan O scillatoria sp.
  • Meskipun fitoplankton didominasi oleh Microcystis sp dan O scillatoria sp yang diketahui tidak disukai zooplankton namun pada penelitian ini ditemukan pula kelimpahan zooplankton dalam jumlah yang cukup besar yakni berkisar antara 34-394 ind · l -1 . Komunitas zooplankton ini selama penelitian didominasi oleh copepoda, cladosera dan rotifera.
Perairan Jangari, akan terus mendapatkan supplai nutrien dari KJA yang berjumlah 27.786 buah 2) . Supplai nutrien yang terus menerus ini dipastikan akan merangsang terjadinya “blooming” di setiap waktu; hingga potensi wisata Jangari menjadi tidak layak lagi. Untuk itu, maka disarankan agar semua pihak terkait mulai memikirkan pembentukan satu lembaga otorita yang berperan mengelola waduk Cirata secara terpadu sehingga semua potensi waduk bisa dimanfaatkan dengan lestari.