Creating Today The Technology for Tomorrow
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

V2

V2.n3.04

JUDUL : PELUANG, KENDALA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN  EKSPOR AGROBISNIS- AGROINDUSTRI  HORTIKULTURA INDONESIA DI ERA MILLENIUM III

PENGARANG : S u l a e f i

Abstract

In the third Millenium, horticulture agro industry is developing into one of the commodity that has a great market probability. Consumer demand is increasing continuously. Horticulture export-import balance showed surplus in the last five years.  In horticulture development we have to countenance a new competitor from South East Asia and Africa, and it will be necessary for Indonesia to increase the ability of penetrating and competition for horticulture product in global market.  To increase the competition, horticulture commodity has  followed several essential factors such as the quality of the products, accurate time for delivery systems, price competition, consistence, followed international health and quality control, and profitable horticulture product.

Kata Kunci: Hortikultura, Peluang Pengembangan, Pasar, Devisa.

Sumber :

Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.2, No.3, (Juni 2000), hal. 25-32 Humas-BPPT/ANY

PENDAHULUAN

Krisis moneter yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 yang kemudian berlanjut dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menganggu kinerja pembangunan dan perekonomian serta penurunan kegiatan disektor riil dan kerawanan pangan.  Hal ini mempunyai dampak terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian Indonesia yang pada akhirnya menimbulkan kerawanan sosial dan politik yang berlangsung hingga saat ini (1) .

Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional maka diperlukan upaya untuk memperlancar serta mengembangan distribusi pangan, terutama hortikultura.  Hortikultura harus mendapat perhatian yang sangat serius mengingat komoditi ini merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang cukup besar. Terjaminnya kelancaran distribusi komoditi hortikultura ini sangat perlu mengingat hal ini akan berpengaruh langsung terhadap tersedianya pasokan dan terciptanya harga yang wajar.  Disamping itu keamanan distribusi hortikultura di era globalisasi menuntut terciptanya suatu sistem distribusi hortikultura yang lebih efektif dan efisien, dan juga harus mengutamakan selera dan kepuasan pasar atau konsumen domestik maupun global. Dengan demikian dipastikan komoditas hortikultura Indonesia akan  mempunyai nilai daya saing yang tinggi.

Dalam rangka memperlancar program distribusi hortikultura dan untuk menyesuaikan dengan perkembangan ekonomi global di abad 21 ini, maka peningkatan daya saing komoditas hortikultura merupakan keharusan bagi bangsa Indonesia, karena dalam era globalisasi tersebut kegiatan distribusi telah semakin bebas menembus batas-batas fungsional negara.  Oleh karena itu komitmen bangsa Indonesia dalam blok-blok perdagangan seperti AFTA dan APEC yang akan efektif mulai tahun 2003 dan 2020 perlu diantisipasi.  Dalam hal ini antisipasi tersebut   khusus diarahkan untuk komoditi hortikultura karena selain merupakan salah satu produk unggulan nasional yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia, juga belum didukung sepenuhnya oleh sumberdaya manusia, teknologi, dan kondisi sosial-ekonomi yang memadai.

KESIMPULAN

  1. Pada era millenium III sektor agrobisnis-agroindustri Hortikultura Indonesia merupakan  komoditas yang sangat penting peranannya dalam ekspor non migas. Agrobisnis hortikultura merupakan komoditas yang perlu ditangani secara serius karena komoditas ini mempunyai potensi yang sangat besar dalam peningkatan produktivitasnya dan mempunyai peluang pasar yang  sangat luas. Permintaan terhadap komoditas hortikultura mempuyai trend yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia dan juga sudah menjadi kebutuhan primer. Kenyataan di lapangan menunjukkan betapa rendahnya daya saing komoditas hortikultura Indonesia.
  2. Produksi sayuran dan buah-buahan di Indonesia pada tahun 1998 sekitar 8.150.916 ton dan 10.772.662 ton yang tersebar dibeberapa daerah sentra produksi. Nilai ekspor terbesar dicapai pada tahun 1996 yaitu untuk komoditi sayur 631.287 ton dengan nilai US $ 143,5 juta dan untuk komoditi buah 339.567 ton dengan nilai US$ 201,3 juta. Sementara itu pada tahun 1998 nilai ekspor untuk komoditi sayur adalah US$ 58,7 juta dan untuk komoditi buah US$ 120,4 juta.
  3. Neraca ekspor-impor memperlihatkan terjadinya surplus. Kondisi ini menunjukan bahwa buah di dalam negeri telah mulai berbenah diri dengan meningkatkan kualitasnya, Ekspor sayur dan buah Indonesia dalam lima tahun terakhir ini menunjukan trend yamng terus meningkat.
  4. Dalam mengembangan produk hortikultura di Indonesia terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi yaitu munculnya pesaing baru yang berasal dari Asia Tenggara (seperti Vietnam, Kamboja), Asia Selatan (India, Srilangka) dan Afrika, dan perlunya Indonesia meningkatkan kemampuan penetrasi dan daya saing produk hortikultura yang dihasilkannya di lingkungnan pasar internasional. Adapun kemampuan penetrasi pasar dan daya saing yang perlu mendapat perhatian yang lebih serius untuk lebih ditingkatkan lagi adalah penetapan produk hortikultura unggulan dan wilayah andalan untuk produk hortikultura, SDM berbudaya industri, teknologi, manajemen, harga yang bersaing, permodalan, pemasaran /promosi, dan infrastruktur.