Balai Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Balai IPTEKnet) BPPT
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

JUDUL

JUDUL : ANALISIS PENERAPAN PAKET TEKNOLOGI BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN KERAPU

PENGARANG : Subiyanto
Pusat Audit Teknologi - BPPT

ABSTRACT
Technology application for the grouper farming specially for the grow out business which is recently recommended by the government is likely handicapped by the need for a big amount of capital and long period of business turn over. This paper proposes a solution by analyzing the feasibility of a business unit for grouper farming based on the technical subsystem application (modul system). Three approaches have been used into the analyses, namely technology, business, and operational management. Managed by inti – plasma partnership, the analyses indicate that the business unit (modul) for the “pendederan”, “penggelondongan”, and “pembesaran” is technically and financially feasible, as well as socially reasonable.

Kata kunci: budidaya pembesaran, teknik sepenggal, kelayakan usaha

SUMBER : 
Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003, Vol. II, hal. 6-12 /HUMAS-BPPT/ANY

PENDAHULUAN

Perdagangan ikan kerapu di Indonesia khususnya untuk tujuan ekspor sudah berjalan cukup lama, dengan mengandalkan pasokan dari hasil tangkapan. Prospek permintaan ikan kerapu untuk tujuan ekspor cukup menjanjikan, sehubungan dengan semakin membaiknya perekonomian di negara-negara tujuan ekspor seperti Hongkong, Taiwan, Singapura, dan Cina,. Pada tahun 2000, Indonesia memasok 9,39 % dari total kebutuhan impor ikan kerapu hidup di Hongkong (IMA Indonesia, 2001). Hal ini telah mendorong intensitas eksploitasi penangkapan ikan kerapu dalam negeri dengan berbagai cara, sehingga seringkali berpotensi merusak terumbu karang yang merupakan habitat alami ikan kerapu. Menyadari fenomena meningkatnya kerusakan terumbu karang yang dapat mengancam kelestarian stok ikan di alam serta untuk menjaga kontinyuitas pasokan ikan kerapu hidup khususnya untuk tujuan ekspor, pemerintah telah membuat kebijakan untuk mengembangkan teknologi budidaya ikan kerapu yang meliputi pembenihan di bak terkontrol dan pembesaran pada karamba jaring apung di pesisir (laut). Secara bertahap, kegiatan budidaya ini diharapkan mampu menggeser dominasi peranan penangkapan. Untuk lebih memacu perkembangannya, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah memasukkan kerapu sebagai salah satu dari empat komoditi unggulan nasional, di samping udang, tuna, dan rumput laut. Posisi produksi ikan kerapu budidaya terhadap penangkapan dilaporkan oleh Menteri Kelutan dan Perikanan (2002) bahwa dari sekitar 58.905 ton produksi ikan kerapu di Indonesia pada tahun 2001, hanya sekitar 7.500 ton (sekitar 13%) yang berasal dari budidaya. 
Keberhasilan pengembangan dan sosialisasi teknologi budidaya ikan kerapu oleh pemerintah khususnya untuk jenis macan, bebek, dan lumpur, serta diperkuat oleh tinggi dan stabilnya harga jual kerapu hidup dan semakin meningkatnya permintaan ekspor, telah mengundang para pengusaha untuk masuk dalam bisnis budidaya kerapu, baik pada kegiatan pembenihan maupun pembesaran. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya luas areal budidaya pembesaran kerapu dengan karamba jaring apung (KJA) dari 15 hektar tahun 1994 menjadi 51 hektar tahun 2000, atau naik dengan rata-rata 53% per tahun (Sunaryanto dkk., 2001). Pada periode yang sama, produksi ikan hasil budidaya meningkat dari sekitar 30 ribu ton menjadi 60 ribu ton, atau naik rata-rata 35% per tahun. Kenaikan paling pesat terjadi di kawasan Lampung, yaitu dari satu pengusaha yang mengelola 8 unit KJA tahun 1999 menjadi 36 pembudidaya yang secara keseluruhan mengelola 267 unit KJA tahun 2002 (Balai Budidaya Laut Lampung, 2002). Untuk budidaya pembenihan, kenaikan paling signifikan terjadi di kawasan Bali khususnya di daerah Gondol. Pada tahun 1997, hanya satu orang petani yang mencoba menjadi pembenih skala rumah tangga dengan produksi sekitar 8500 ekor per tahun, dan pada tahun 2001, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 1500 pembenih skala rumah tangga dengan volume produksi sekitar 1,5 juta ekor setahun (Slamet dkk. 2002). 
Saat ini, para praktisi (pengusaha) telah mampu mengaplikasikan teknologi pembenihan ikan kerapu khususnya untuk jenis kerapu macan, bebek, dan lumpur, dengan capaian tingkat kelolosan hidup (survival rate=SR) antara 5 - 10%. Untuk skala laboratorium, capaian SR telah sampai ke angka 40%. Untuk menghasilkan benih ukuran 5 - 7 cm, diperlukan waktu sekitar 2 - 4 bulan (tergantung jenisnya). Perkembangan teknologi pasca panen juga telah memungkinkan untuk mengangkut benih kerapu tersebut ke berbagai wilayah di Indonesia. Dengan pertimbangan untuk meningkatkan nilai tambah budidaya kerapu nasional, pemerintah telah mengambil kebijaksanaan untuk tidak mengekspor ikan kerapu dalam bentuk benih, melainkan dalam bentuk ikan ukuran konsumsi (0,5 - 1,0 kg). Karena itu perkembangan usaha budidaya ikan kerapu di Indonesia ke depan tampaknya masih akan ditentukan oleh kemampuan sektor budidaya pembesaran dalam menampung hasil budidaya pembenihan.

KESIMPULAN

Penerapan paket teknologi budidaya pembesaran ikan kerapu bebek pada kegiatan usaha yang berkembang saat masih sarat dengan risiko karena memerlukan waktu panjang (± 16 bulan) dan modal yang besar. Pola paket sepenggal yang terdiri dari paket pendederan (4 bulan), penggelondongan (6 bulan), dan pembesaran (6 bulan) dinilai mampu memberikan alternatif yang lebih baik, sepanjang dikelola dengan manajemen kemitraan inti-plasma. Paket sepenggal ini secara teknis dapat dioperasionalkan, dan secara bisnis menguntungkan. Agar kemitraan inti-plasma tersebut berkelanjutan, maka diperlukan mekanisme pembagian tanggungjawab yang proporsional, dan pembagian tanggungjawab ini perlu dijadikan acuan dalam menyusun mekanisme bagi hasil yang adil.