Creating Today The Technology for Tomorrow
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

VI

VI.IIIB.14

JUDUL :
PENGARUH TEKANAN PEMBENTUKAN TERHADAP TINGKAT KEAUSAN DAN KEKERASAN MATERIAL GESEK KOMPOSIT 

PENGARANG : Masmui, Agus Hadi Santosa Wargadipura, Seto Roseno, Wawas Swathatafrijiah 

Abstract
The use of composite as friction materials must satisfy certain requirements pertaining to its uses in braking system, such as friction coefficient, shear strength, gross breaking strength, and hardness. This paper investigates the wearing resistance and hardness of composite specimen with the composition of 38% of phenolic resins, 60% of local clay and 2% of pulping Kevlar. In this case, compression moulding techniques at elevated temperatures is used to make the composite specimens with various amount of pressure. It was found that the Brinell Hardness Number of the specimens ranging from 31 to 34. Furthermore, the wearing resistance test gave average wearing resistance results ranging from 1,38 x 10-5 to 7,28 x 10-5 mm3/mm. In the final part of the paper, the influence of forming pressure on the wearing resistance and hardness of the material is discussed. 

Kata Kunci: material gesek komposit, ketahanan aus, hot press, nilai kekerasan Brinell.

SUMBER : 
Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003, Vol. I, hal. 323 - 331 /HUMAS-BPPT/ANY

PENDAHULUAN
Pemakaian material komposit dalam bidang teknik, dewasa ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pengetahuan tentang karakteristik material ini, dan biaya produksi yang diperlukan relatif sama dan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan produk dari material baku logam cor. Beberapa keunggulan material komposit dibandingkan dengan material konvensional adalah selain memiliki daya tahan tinggi, juga lebih ringan dan mudah dirancang. Berdasarkan hal ini, material komposit banyak digunakan pada beberapa industri, antara lain pesawat terbang, industri otomotif, industri olahraga dan lain-lain, termasuk penggunaan pada sepatu rem (block rem) kereta api. Saat ini, sepatu rem yang digunakan pada kereta api di Indonesia umumnya terbuat dari besi cor kelabu (gray cast iron), yang memiliki daya tahan keausannya relatif rendah. Beberapa kelemahan penggunaan sepatu rem dengan material logam ini meliputi: umur pemakaian yang pendek sehingga memerlukan biaya servis yang tinggi dan jumlah penggantian komponen yang tinggi, daya cengkram pengereman kurang baik, temperatur yang timbul akibat pengereman sangat tinggi sehingga mengganggu reliability sistem pengereman, dan juga relatif lebih berat dibandingkan dengan komponen sepatu rem yang terbuat dari material komposit.


KESIMPULAN
Dari hasil analisa diperoleh bahwa Specimen 1 dengan tahapan proses pembuatan sesuai pada Tabel 3.1 memiliki:

  • Tingkat keausan paling rendah dibandingkan specimen lainnya, artinya specimen 1 memiliki ketahanan gesek (abrasive) paling tinggi dibandingkan Specimen lainnya.
  • Brinell Hardness Number (BHN) paling besar dibandingkan specimen lainnya, artinya tingkat kekerasan (hardness) Specimen 1 paling tinggi dibanding Specimen lainnya.
  • Karakteristik dengan tingkat keausan rendah dan Brinell Hardness Number (BHN) tinggi diperoleh dengan memberikan tekanan pembentukan relatif lebih rendah dibanding specimen lainnya. Hal ini disebabkan oleh dua kemungkinan :
    i). Terpisahnya resin sebagai bahan pengikat (binder) dari campuran komposit.
    ii). Kekuatan ikat resin lebih kecil dari pada tekanan pembentukan yang diberikan pada specimen pada waktu proses pembuatan specimen.
    Perlu dicatat dalam penelitian ini bahwa pemberian tekanan pembentukan sebesar 7 Bar dan 8 Bar akan menyebabkan terjadi keretakan specimen pada waktu pembuatan.

Manfaat dari kegiatan pengembangan dan penerapan material komposit sebagai material gesek (friction material) adalah: 

  1. Untuk pengembangan dan pembuatan komponen sepatu rem komposit baik untuk bidang otomotif maupun kereta api oleh industri dalam negeri.
  2. Dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen sepatu rem kereta api sehingga diharapkan semua kereta api yang beroperasi di Indonsia dapat menggunakan bahan dari komposit lokal.

Peningkatan kemampuan dalam rekayasa penerapan material komposit.