Ringkasan Eksekutif INDIKATOR 2005
Telekomunikasi dan Informatika (Telematika) di Indonesia Kamis, 06-04-2006
Diantara negara-negara ASEAN maupun negara-negara Asia Pasifik pada umumnya,
penetrasi telepon tetap di Indonesia masih terbilang rendah. Berdasarkan data
tahun 2004 teledensitas (telepon tetap) ASEAN adalah 6,6 per 100 penduduk, sedangkan
di Indonesia sekitar 4,5 per 100 penduduk.
Berdasarkan data Telkom, teledensitas Indonesia pada bulan Juni 2005 adalah
46,89:1000 (46,89 sambungan telepon tetap kabel dan nirkabel per 1.000 penduduk),
dengan teledensitas yang bervariasi antar divisi regional.
Sampai dengan Juni 2005 tercatat dengan kapasitas sentral Telkom sebesar 10.471.744
(exchange capacity), telah terpasang 10.269.259 saluran kabel telepon (installed
lines), dan tersambung 9.168.811 sambungan telepon (line in service), dimana
92% merupakan sambungan kabel dan 8% sambungan nirkabel.
Dengan struktur industri telekomunikasi yang baru, monopoli telkom sebagai
penyelenggara telepon tetap telah berakhir, namun Telkom masih tetap mendominasi
pasar telepon tetap. Sampai Juni 2004, Telkom menguasai sekitar 82% pasar telepon
tetap nirkabel (fixed wireless).
Masyarakat masih sangat bergantung pada pelayanan telepon umum, baik wartel
maupun telepon umum koin / kartu (TUKK). Pada Juni 2004, kondisi pelayanan telepon
umum di Indonesia adalah 0,36 TUKK untuk setiap 1.000 penduduk, sedangkan untuk
wartel 1,65:1.000. Seperti layanan telepon pada umumnya, teledensitas telum
di setiap divre pun bervariasi.
Pada periode 2000-2004, pertumbuhan telum (khususnya yang berbasis kabel)l
di Indonesia mencapai 6% untuk wartel, sedangkan untuk telepon koin/kartu berkurang
sekitar 10%.
Pada bulan Juni 2005 sekitar 80,48% pelanggan telepon kabel tetap adalah dari
kategori residensial, 19,37% dari kategori bisnis dan sisanya 0,15% dari kategori
sosial.
Dengan struktur industri telekomunikasi yang baru, baik Telkom maupun Indosat
memiliki ijin penyelenggaraan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) dan Sambungan
Langsung Internasional (SLI). Telkom yang telah mengoperasikan layanan SLInya
(TIC007) sejak pertengahan 2004, pada akhir 2004 memiliki pangsa pasar sebesar
25% dari trafik SLI, dan sisanya 75% milik Indosat. Pada akhir 2004 total trafik
SLI adalah 894,918 ribu menit trafik masuk dan 250,710 ribu menit trafik keluar,
dengan kenaikan 34% secara keseluruhan.
Teledensitas ASEAN menurut data ITU 2004 adalah 6,62:100 untuk telepon tetap
dan 20,83:100 untuk telepon selular.
Di Indonesia, telepon selular merupakan alternatif pengganti telepon kabel
konvensional (fixed wireline) dengan densitas telepon selular sebesar 13,48:1.00,
sekitar tiga kali lipat teledensitas telepon tetap yang sebesar 4,49:100.
Menurut data Asosiasi Telepon Selular Indonesia (ATSI), dalam periode tahun
1996-2005, pertumbuhan rata-rata pengguna ponsel di Indonesia adalah 63,7% per
tahun. Jumlah pelanggan selular Indonesia diperkirakan mencapai 40 juta di akhir
2005. Meningkatnya jumlah pelanggan seluler berdampak pada menurunnya ARPU (average
revenue per user) atau rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan, dengan ARPU
gabungan (pasca-bayar dan pra-bayar) tiga operator seluler terbesar tahun 2004
berkisar antara Rp.70.000-100.000,-.
Operator GSM mendominasi 99% pasar selular pada tahun 2004, sedangkan skema
pembayaran selular didominasi pra-bayar (94%) dan sisanya 6% pasca-bayar.
Sarana penunjang akses informasi di Indonesia secara umum masih rendah. Jumlah
PC per 100 penduduk Indonesia pada tahun 2004 hanya 1,36, masih jauh bila dibandingkan
dengan Malaysia (19,70:100) dan Singapura (76,11:100). Jumlah pengguna internet
pun masih rendah, yaitu 6,52 pengguna internet per 100 penduduk, dibandingkan
dengan Malaysia (39,71:100) dan Singapura (56,12:100).
Menurut APJII, pada akhir 2004 terdapat sekitar 1.087.428 pelanggan dan sekitar
11.226.143 pengguna internet. Dengan populasi 257,76 juta, berarti sekitar 4,6%
masyarakat adalah pengguna internet dan 0,4% pelanggan internet. Tahun 2005
diperkirakan akan terdapat 1.500.000 pelanggan dan 16.000.000 pengguna di Indonesia.
Sebanyak 75% pelanggan dan pengguna internet berlokasi di Jakarta, 15% di Surabaya,
5% di daerah lain di pulau Jawa dan 5% sisanya di propinsi lainnya.
Dirjen Pos dan Telekomunikasi sampai akhir 2004 telah mengeluarkan sekitar
228 lisensi ISP, namun hanya sekitar 84 ISP yang diketahui beroperasi aktif.
Berdasarkan survei, TelkomNetIinstan merupakan ISP yang paling banyak digunakan
(49,59%), disusul CBN (20,25%), Centrin (8,26%) dan IndosatNet (6,20%).
Secara gender di Indonesia diperkirakan lebih banyak pengguna internet adalah
pria (75.86%) daripada wanita (24.14%). Ditinjau dari jenjang pendidikan, tingkat
Sarjana adalah pengguna terbanyak (43%) selanjutnya tingkat SLTA (41%). Berdasarkan
profesi menunjukkan bahwa mahasiswa yang paling banyak menggunakan internet
(39%).
Berdasarkan lokasi, yang digunakan untuk mengakses internet adalah rumah sendiri,
di kantor dan di warnet. Namun bagi mahasiswa, warnet merupakan tempat utama
penggunaan internet, sedangkan bagi non mahasiswa, kantor merupakan tempat utama
penggunaan internet.
Diperkirakan pada tahun 2003 terdapat sekitar 4.000 warnet. Berdasarkan distribusinya,
kebanyakan warnet berlokasi di Pulau Jawa(84%).
Berdasarkan data ITU tahun 2004 terdapat sekitar 111.630 internet hosts Indonesia,
atau 5,01 hosts per 100 penduduk. Jumlah tersebut masih kecil dibandingkan dengan
Malaysia (54,10:100) dan Singapore (1.165,93:100).
Domain Tingkat Tinggi terbagi dua yaitu global TLD (gTLD) dan DTT per negara.
Pada bulan Juni 2004 terdaftar 20.954 domain .id, belum termasuk yang menggunakan
gTLD. Pada periode 1995- 2004 pertumbuhan rata-rata domain .id pertahun adalah
107%.
Hasil penelusuran dan kajian menunjukan bahwa prosentase jumlah website aktif
go.id sebesar 76%,hal ini menandakan belum terjaganya kontinuitas proses pengelolaan
dan perawatan situs agar tetap berlangsung dan ‘up-to date’. Khusus
keberadaan website pemerintah di daerah yang hanya mencapai 25% menunjukan masih
terjadinya digital devide antar daerah yang menguasai teknologi informasi/internet
dan daerah yang kurang mendapat sarana dan prasarana pendukung.
Berdasarkan hasil pemetaan tahapan implementasi E-government pada go.id dan
DT1 dan DT2 menunjukan bahwa sebagian besar institusi pemerintah masih menggunakan
website sebagai media informasi dan publikasi (59% dan 68%). Hal ini dapat dipahami
mengingat saat ini proses administrasi di instansi pemerintah masih dalam tahap
transformasi dari manual ke elektronisasi.
Pencapaian tahap ke 2 (Prospecting/Electronic Service Delivery (ESD)) implementasi
E-government sebesar 32% untuk domain .go.id dan 29% untuk situs pemerintah
daerah menunjukkan pengembangan E-government yang masih minim, yaitu hingga
tahap memberikan fungsi layanan kepada masyarakat dalam bentuk searching data,
download dan forum/chatting dan fungsi lainnya.
Tidak tercapainya tahap 3 (Business Integration/Seamless Government) dan 4
(Business Transformation/Information Society) menunjukkan belum siapnya fungsi
pelayanan masyarakat dengan cara transaksi online yang dilengkapi dengan kemampuan
konfigurasi dan kostumasi.
Stasiun televisi Indonesia pada tahun 2002 berjumlah 63 stasiun televisi yang
meliputi 16% TV swasta, 48% TV berlangganan dan 36% TV pemerintah atau TVRI.
TV swasta yang berjumlah 10 stasiun, seluruhnya berdomisili di Jakarta.
Jumlah stasiun radio di Indonesia, pada tahun 2002 adalah sebesar 1.188 stasiun
radio, dimana 95% berupa radio siaran swasta / non-pemerintah dan 5% radio pemerintah
atau RRI.
Investasi Industri Teknologi Informasi dan Komunikasi
- Selama periode tahun 2002-2005, nilai persetujuan investasi industri manufaktur
TIK terbesar terjadi pada tahun 2004 dengan nilai persetujuan sebesar USD
461 juta. Tahun 2002, 2003, dan 2005 nilai persetujuan tertingginya tidak
mencapai USD 162 juta.
- Nilai realisasi manufaktur TIK terbesar pada kurun waktu tahun 2004-2005
dialami pada tahun 2005 dengan nilai realisasi investasi sebesar USD 263 juta.
- Industri tabung dan katup elektronik serta komponen elektronik lainnya,
seperti tahun-tahun sebelumnya, masih merupakan industri unggulan dalam penyerapan
penanaman modal, baik untuk persetujuan maupun realisasinya, dengan pengecualian
nilai persetujuan penanaman modal pada tahun 2003.
- Kenaikan nilai realisasi investasi industri manufaktur TIK pada tahun 2005
dibarengi dengan kenaikan nilai realisasi untuk proyek PMA Baru dan Perluasan.
Pada proyek Baru, jika pada tahun 2004 nilainya mencapai USD 24,14 juta maka
pada tahun 2005, nilainya berkembang menjadi USD 151,41 juta atau nilai realisasi
pada proyek Baru berkembang menjadi 6 kali lipat. Demikian juga halnya dengan
proyek Perluasan. Jika pada tahun 2004 nilai realisasinya mencapai USD 39,05
juta maka pada tahun 2005 nilai realisasinya berkembang menjadi USD 111,55
juta atau nilai realisasi pada proyek Perluasan berkembang menjadi hampir
3 kali lipat
- Pada tahun 2004, realisasi industri manufaktur TIK datang dari beberapa
negara. Empat negara yang persentase nilai investasinya lebih besar dari 10
% dari nilai investasi total adalah Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Gabungan.
Sedangkan pada tahun 2005, hanya tinggal 2 negara yang nilai persentase realisasi
investasinya cukup besar, yaitu Jepang dan Korea Selatan
- Pada realisasinya, jumlah tenaga kerja yang diserap industri manufaktur
TIK mengalami kenaikan pada tahun 2005 jika dibandingkan dengan tahun 2004.
Pada tahun 2004 direncanakan penyerapan 22.497 tenaga kerja, tetapi realisasinya
hanya 3.253 tenaga kerja. Pada tahun 2005 direncanakan penyerapan 11.453 tenaga
kerja, tetapi realisasinya mencapai 8.823 tenaga kerja.
- Selama empat tahun terakhir; tahun 2002, 2003, 2004, dan 2005; hanya 7 propinsi
yang disetujui atau menerima dana investasi industri manufaktur TIK. Propinsi
tersebut adalah Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat,
Jawa Timur, dan Banten. Propinsi yang paling banyak disetujui untuk menyerap
dana investasi dan paling banyak terealisasi proyek PMAnya untuk industri
manufaktur TIK pada periode tahun 2002-2005 adalah Propinsi Jawa Barat.
- Realisasi industri jasa TIK pada periode tahun 2004-2005, nilai terbesar
terjadi pada tahun 2005 dengan nilai realisasi investasi sebesar USD 6,70
juta.
- Industri perdagangan ekspor impor, distributor, dan kegiatan jasa lain yang
berkaitan dengan komputer banyak diminati investor dengan nilai realisasi
sebesar USD 4,25 juta atau sekitar 63,4 % dari total realisasi industri jasa
TIK pada tahun 2005
- Nilai realisasi investasi proyek PMA Baru pada tahun 2005 mencapai USD 2,7
juta
- Pada tahun 2005, realisasi proyek Alih status merupakan yang terbesar. Nilai
realisasinya adalah USD 3,24 juta atau setara dengan 48,4 % dari total nilai
invesasi industri jasa TIK. Realisasi poyek Baru mempunyai nilai kedua terbesar.
- Pada tahun 2004, realisasi industri jasa TIK datang dari beberapa negara.
Lima negara yang persentase nilai investasinya lebih besar dari 10 % nilai
investasi total adalah Korea Selatan, Australia, Inggris, Rusia dan Gabungan.
Sedangkan pada tahun 2005, hanya tinggal 3 negara yang nilai persentase realisasi
investasinya lebih besar dari 10 % nilai investasi total, yaitu Jepang, Singapura,
dan Gabungan (Tabel 2.15).
- Pada data Persetujuan proyek PMA industri jasa TIK, tenaga kerja yang direncanakan
diserap pada periode tahun 2004-2005 mencapai nilai terbesarnya pada tahun
2005 untuk tenaga lokal (tenaga kerja bangsa Indonesia, TKI); tetapi untuk
tenaga kerja asing (TKA) persetujuan terbesarnya terjadi pada tahun 2004.
- Pada tahun 2004, propinsi DKI Jakarta menyerap 91,9 % dana dari total proyek
PMA industri jasa TIK yang terealisasi. Persentase sisanya diserap oleh propinsi
Jawa Barat. Sedangkan pada tahun 2005, propinsi DKI Jakarta menyerap persentase
yang lebih besar lagi, yaitu 97,9 % dari total proyek PMA industri jasa TIK
yang terealisasi. Persentase sisanya diserap oleh propinsi Bali.
- Realisasi PMDN pada tahun 2004 banyak diserap pada Proyek PMDN Baru yang
mencapai hampir 82 % dari total uang yang direalisasikan pada tahun tersebut.
Pada tahun 2005 tidak ada realisasi PMDN untuk industri manufaktur dan jasa
TIK.
Belanja Pemerintah Pusat untuk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Anggaran Pembangunan dan Belanja Pemerintah (APBN) untuk tahun anggaran 2005
sebesar Rp. 266,1 triliun sedangkan APBN untuk tahun anggaran 2004 sebesar Rp.
255,3 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 4,23%.
Pemerintah pusat merealisasikan belanja pada tahun anggaran 2005 untuk katagori
teknologi informasi dan komunikasi sebesar Rp. 2,5 triliun atau sebesar 0,93%
dari total belanja pemerintah pusat.
Belanja kementrian negara atau lembaga pemerintah pusat untuk teknologi informasi
dan komunikasi yang terbesar dibelanjakan oleh Departemen Pendidikan Nasional
(kode 23), yaitu Rp. 518,65 miliar atau 20,92% dari total belanja Pemerintah
Pusat untuk TIK. Berikutnya Lembaga Sandi Negara (kode 51) membelanjakan untuk
TIK sebesar 14,93% dari total belanja Pemerintah Pusat untuk TIK. Sedangkan
belanja yang terkecil untuk TIK dibelanjakan oleh Kementrian Olah Raga dan Pemuda
(kode 92) dan Lembaga Ketahanan Nasional (kode 64), yaitu masing-masing sebesar
Rp. 0,04 miliar.
Fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum (kode 06) membelanjakan untuk TIK sebesar
Rp. 786,8 miliar atau 34,5% dari total belanja pemerintah pusat untuk TIK. Dimana
belanja tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan belanja fungsi-fungsi
lainnya. Sementara fungsi Lingkungan Hidup (kode 05) membelanjakan TIK yang
terkecil, yaitu sebesar Rp. 1,2 miliar. Sedangkan jika melihat kementrian negara/lembaga
pemerintah pusat dan fungsi, maka yang terbesar adalah Departemen Pendidikan
Nasional (kode 23) untuk fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum (kode 06), yaitu
sebesar Rp. 514,37 miliar.
Perdagangan Luar Negeri Komoditi Teknologi Informasi dan Komunikasi
- Ekspor komoditi mesin pengolahan data otomatis ke berbagai negara pada tahun
2004 memperlihatkan kecenderungan yang sangat menggembirakan. Pada tahun 2004,
nilai ekspornya mengalami kenaikan sebesar 76,8 % atau kenaikannya setara
dengan USD 659 juta.
- Nilai impor terbesar dilakukan pada tahun 2004 dengan nilai impor sebesar
USD 292 juta. Sedangkan nilai Neraca perdagangan Indonesia untuk komoditi
mesin pengolahan data otomatis, pada tahun 2004, meningkat hampir dua kali
lipat jika dibandingkan dengan neraca perdagangan tahun sebelumnya. Nilai
neraca perdagangan pada tahun 2004 mencapai lebih dari USD 1,2 milyar.
- Singapura, Hongkong, Jepang, dan USA merupakan empat negara utama tujuan
ekspor komoditi mesin pengolahan data otomatis pada periode tahun 2001-2004;
Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Cina, dan USA merupakan enam negara
utama asal impor komoditi ini pada periode tahun 2001-2004. Sedangkan Singapura,
Hongkong, Jepang, dan USA merupakan empat negara utama yang menghasilkan neraca
perdagangan yang sangat menguntungkan Indonesia untuk komoditi ini pada periode
tahun 2001-2004.
- Pada tahun 2004, Indonesia hanya mengalami defisit neraca perdagangan dengan
negara Malaysia untuk komoditi mesin pengolahan data otomatis.
- Pada tahun 2004, nilai ekspor television-radio broadcast receivers dan perekam
dan reproduksi suara mengalami kenaikan sebesar 26,9 % atau kenaikannya setara
dengan USD 425 juta; Nilai impornya hanya 5,8 % dari nilai ekspornya. Sedangkan
nilai neraca perdagangan pada tahun 2004 mencapai lebih dari USD 1,8 milyar.
- Singapura, Jepang, dan USA merupakan tiga negara utama tujuan ekspor komoditi
television-radio broadcast receivers dan perekam dan reproduksi suara pada
periode tahun 2001-2004; Malaysia, Korea Selatan, dan Cina merupakan tiga
negara utama asal impor komoditi ini pada periode tahun 2001-2004. Sedangkan
Singapura, Jepang, dan USA merupakan tiga negara utama yang menghasilkan neraca
perdagangan yang sangat menguntungkan Indonesia untuk komoditi ini pada periode
tahun 2001-2004.
- Pada tahun 2004, Indonesia hanya mengalami defisit neraca perdagangan dengan
negara Malaysia dan Cina saja untuk komoditi. television-radio broadcast receivers
dan perekam dan reproduksi suara.
- Pada tahun 2004, nilai ekspor komoditi peralatan telekomunikasi dan sukucadang
mengalami penurunan sebesar 23,6 % atau nilai penurunannya setara dengan USD
331 juta. Pada tahun tersebut, nilai impornya mencapai 102,3 % dari nilai
ekspornya. Dengan kondisi yang demikian, neraca perdagangan untuk komoditi
ini menjadi negatif untuk kerugian Indonesia dengan defisit neraca perdagangan
sebesar USD 25 juta.
- Singapura, Malaysia, Jepang, dan USA merupakan empat negara utama tujuan
ekspor komoditi peralatan telekomunikasi dan sukucadang pada periode tahun
2001-2004; Jepang, Korea Selatan, Cina, dan USA merupakan empat negara utama
asal impor komoditi ini pada periode tahun 2001-2004. Sedangkan Singapura,
Malaysia, Jepang, dan USA merupakan empat negara utama yang menghasilkan neraca
perdagangan yang sangat menguntungkan Indonesia untuk komoditi ini pada periode
tahun 2001-2004.
- Pada tahun 2004, neraca perdagangan Indonesia dengan negara Korea Selatan
dan Cina tetap mengalami defisit. Bahkan, pada tahun 2004, nilai defisitnya
menjadi semakin membesar.
- Pada tahun 2004, nilai ekspor komoditi thermionic, cold cathode and photocathode
valves and tubes mengalami kenaikan sebesar 5,7 % atau kenaikannya setara
dengan USD 41 juta; nilai impornya mencapai 23,6 % dari nilai ekspornya; sedangkan
nilai neraca perdagangan pada tahun 2004 mencapai lebih dari USD 582 juta.
- Singapura, Malaysia, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, dan Cina merupakan
enam negara utama tujuan ekspor komoditi thermionic, cold cathode and photocathode
valves and tubes pada periode tahun 2001-2004; Malaysia, Singapura, Thailand,
Korea Selatan, dan Cina merupakan lima negara utama asal impor komoditi ini
pada periode tahun 2001-2004; sedangkan Singapura, Malaysia, Hongkong, Jepang,
dan Cina merupakan lima negara utama yang menghasilkan neraca perdagangan
yang sangat menguntungkan Indonesia untuk komoditi ini pada periode tahun
2001-2004.
- Pada tahun 2004, Indonesia hanya mengalami defisit neraca perdagangan yang
besar untuk komoditi thermionic, cold cathode and photocathode valves and
tubes dengan negara Thailand dan Korea Selatan saja.
Paten dn Hak-Cipta Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pengembangan produk yang termasuk pada bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi
terus berlanjut untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan dari para pengguna.
Karya cipta perangkat lunak dan perangkat keras dari produk TIK ini saling melengkapi
satu sama lain sehingga produk-produk tersebut dapat berfungsi seperti apa yang
diinginkan oleh penggunanya. Penciptaan produk-produk ini (baik perangkat keras
atau perangkat lunak) juga didaftarkan oleh penciptanya atau perusahaan ke Dirjen
HKI agar mempunyai kekuatan hukum untuk mencegah terjadinya penjiplakan atau
penggunaan yang melanggar hukum.
Paten dan Hak Cipta mengindentifikasikan tingkat aktifitas penemuan atau penciptaan
suatu karya pada bidang tertentu yang akan mendorong adanya suatu investasi
baru dan memotivasi kemajuan pada bidang-bidang tersebut, seperti pada bidang
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang perkembangan dan inovasi nya
begitu cepat dan investasinya sangat besar. Untuk melihat bagaimana perkembangan
produk TIK dapat dilihat dari sisi paten dan hak cipta yang terdaftar. Indikator
hak cipta dan paten ini dibuat untuk memberik indikasi pada para pengambil keputusan,
pelaku bisnis dan peneliti atas status penelitian dan pengmbangan teknologi
informasi dan komunikasi di Indonesia.
Pada Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi ini hak cipta dan paten ditampilkan
dari beberapa sisi, yaitu : permintaan paten yang didasarkan pada seksi atau
kelasnya, negara asal peminta paten, jenis permintaan berdasarkan seksi dan
kelasnya, dan permintaan paten dar masyarakat Indonesia. Pengelompokan paten
untuk teknologi informasi dan komunikasi didasarkan pada International Paten
Classification yang terbagi dalam 8 kelompok besar dan tidak tercantum secara
spesifik. Komponen-komponen teknologi informasi ditemukan secara terpisah-pisah
pada kelompok Fisika ( Seksi G – Physics ) dan kelompok Listrik ( Seksi
H – Electricity ).
Pada indikator ini disajikan data permintaan paten dari tahun 1998 – 2005,
yang didasarkan pada publikasi resmi dari Ditjen HKI. Dari permintaan paten
Teknologi Informasi dan Komunikasi yang tercatat di Direktorat Paten ada sebanyak
1700 permintaan, sebanyak 92% (1565 permintaan) berasal dari perusahaan asing
dan sisanya sebanyak 8% dari masyarakat Indonesia. Jumlah permintaan dari masyarakat
Indonesia pada dua tahun terakhir ini menurun bahkan dapat dikatakan tidak ada.
Hal ini menjadikan tanda tanya besar setelah adanya kenaikan sebesar 2% dari
tahun 2002 ke 2003
Klasifikasi permintaan paten yang didasarkan pada International Paten Classification
(IPC) ada sejumlah 47% dari seksi G (Fisika) dan 53% seksi H (Listrik). Dari
sejumlah permintaan paten berdasarkan IPC nya, permintaan paten dari masyarakat
Indonesia ada sebanyak 40 permintaan dari seksi G dan 100 permintaan dari seksi
H. Permintaan paten masyarakat Indonesia ini ada sebanyak 63.5% dari seluruh
permintaan paten bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia termasuk
dalam kelas IPC H04 (Teknik Komunikasi). Hal ini mengindikasikan bahwa penelitian
dan pengembangan masih berkisar pada bidang komunikasi, dan PT Telekomunikasi
Indonesia berperan cukup besar yaitu 92 permintaan paten.
Didasarkan pada negera pengusul, yang pada perioda 1998 – 2005 ada 35
negara, USA merupakan negara asal perusahaan pengusul paten terbanyak yaitu
30% dari total permintaan, kemudian diikuti Jepang sebanyak 27% dari total permintaan.
Bila dilihat dari seksi IPC nya perusahaan-perusahaan dari negara Jepang menguasai
seksi G (40% dari permintaan untuk seksi G), sedangkan USA seksi H (35% dari
seksi H). Sedangkan dari kelas IPC nya teknik komunikasi (H04) Jepang dan Amerika
banyak mengusulkan permintaan patennya.
Dari usulan paten yang ada pada Dit. Paten dapat dikelompokkan berdasarkan
pada permintaan paten yang sudah pernah diusulkan di negara lain (W) atau belum
pernah diusulkan (P). Ada sebanyak 76% permintaan paten yang pernah diusulkan
di negara lain dan 24% permintaan yang belum pernah diusulkan di negara lain.
Hal ini menunjukkan bahwa keinginan-keinginan pengusul untuk melindungi penemuannya
di negara-negara dimana produk-produknya dipasarkan untuk menekan tingkat ‘pencurian’
dan ‘pengeksploitasikan’ dari pihak lain.
SDM Perguruan Tinggi Negeri bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi
Peranan sumber daya manusia dalam perkembangan bidang TIK sangat berperan sekali,
kondisi ini memicu lembaga pendidikan formal untuk mempersiapkan, mendidik,
dan menghasilkan tenaga-tenaga terampil serta mempunyai keterampilan yang memadai
dibidangnya.
Data SDM PTN yang disajikan pada indikator ini adalah mengenai perguruan tinggi
negeri dan politeknik negeri yang menyelenggarakan program studi bidang TIK,
Keadaan mahasiswa yang terdiri dari jumlah peminat, kapasitas yang disediakan,
mahasiswa terdaftar, dan lulusan, dan terakhir keadaan dosen yaitu mengenai
tingkat pendidikan dosen berdasarkan strata dan tempat mengajar.
Perguruan tinggi negeri dan politeknik negeri yang menyelenggarakan program
studi bidang TIK berjumlah 51 buah yang terdiri dari 36 PTN dan 15 politeknik
negeri, berdasarkan daerah maka yang terbanyak terdapat di Jawa yaitu 24 buah
(46%), disusul Sumatra dengan 12 buah (24%), lalu Sulawesi 8 buah (16%), Bali
dan Nusa Tenggara 4 buah(8%), Kalimantan 3 buah (6%),
Program studi yang menyelenggarakan bidang TIK berjumlah 111, yang terdiri
dari 84 program studi di PTN dan 27 di politeknik negeri, berdasarkan jenjang/strata
di dominasi oleh oleh strata D3 (
Perguruan tinggi negeri dan politeknik negeri yang memberikan data pada saat
survey PTN SITI tahun 2005 sebanyak 26 PTN dengan 46 program studi, dan 9 Politeknik
dengan 11 program studi.
Secara keseluruhan data keadaan mahasiswa perguruan tinggi negeri terlihat
bahwa banyaknya peminat pada tahun ajaran 2001/2002 adalah sebanyak 22.391,
untuk tahun ajaran 2002/2003 sebanyak 27.484, untuk tahun ajaran 2003/2004 sebanyak
23.292, untuk tahun ajaran 2004/2005 sebanyak 22.833, selanjutnya kapasitas
yang tersedia pada tahun ajaran 2001/2002 sebanyak 3.435, untuk tahun ajaran
2002/2003 sebanyak 4.100, untuk tahun ajaran 2003/2004 sebanyak 4.259, dan untuk
tahun ajaran 2004/2005 sebanyak 4.401, jumlah mahasiswa yang terdaftar sebagai
mahasiswa pada tahun ajaran 2001/2002 sebanyak 3.097, untuk tahun ajaran 2002/2003
sebanyak 3.478, untuk tahun ajaran 2003/2004 sebanyak 3.434, dan untuk tahun
ajaran 2004/2005 sebanyak 3.496, untuk mahasiswa yang telah menyelesaikan studi
(lulusan) pada tahun ajaran 2001/2002 sebanyak 2.176, untuk tahun 2002/2003
sebanyak 2.418, untuk tahun ajaran 2003/2004 sebanyak 2.250, dan untuk tahun
ajaran 2004/2005 sebanyak 2.353, secara keseluruhan terlihat terjadi kenaikan
dari tahun ke tahun, kecuali untuk peminat terjadi penurunan dari tahun-ketahun
Untuk politeknik negeri pada tahun ajaran 2001/2002 jumlah peminat adalah sebanyak
7.013, untuk kapasitas tempat yang tersedia sebanyak 1.030, sedangkan mahasiswa
baru yang terdaftar adalah sebanyak 1.149, dan jumlah lulusan sebanyak 859,
untuk tahun 2002/2003 jumlah peminat adalah sebanyak 7.041, untuk kapasitas
tempat yang tersedia sebanyak 1.146, sedangkan mahasiswa baru yang terdaftar
adalah sebanyak 1.258, dan jumlah lulusan sebanyak 866, untuk tahun ajaran 2003/2004
jumlah peminat adalah sebanyak 6.205, untuk kapasitas tempat yang tersedia sebanyak
1.154, sedangkan mahasiswa baru yang terdaftar adalah sebanyak 1.241, dan jumlah
lulusan sebanyak 969, dan untuk tahun ajaran 2004/2005 jumlah peminat adalah
sebanyak 5.036, untuk kapasitas tempat yang tersedia sebanyak 1.153, sedangkan
mahasiswa baru yang terdaftar adalah sebanyak 1.259, dan jumlah lulusan sebanyak
910, terlihat bahwa terjadi penurunan untuk peminat di politeknik negeri, sedangkan
kapasitas, mahasiswa yang masuk, dan jumlah lulusan cenderung stabil tanpa banyak
perubahan yang signifikan.
Selanjutnya untuk keadaan dosen secara keseluruhan terlihat bahwa dosen yang
dengan tingkat pendidikan D3 (< S1) yang mengajar pada tahun ajaran 2001/2002
sebanyak 20 dosen, untuk tahun ajaran 2002/2003 sebanyak 20, untuk tahun ajaran
2003/2004 sebanyak 21, dan untuk tahun ajaran 2004/2005 sebanyak 26, selanjutnya
dosen dengan tingkat pendidikan S1 yang mengajar pada tahun ajaran 2001/2002
sebanyak 436 dosen, untuk tahun ajaran 2002/2003 sebanyak 459, untuk tahun ajaran
2003/2004 sebanyak 430, dan untuk tahun ajaran 2004/2005 sebanyak 447, dosen
dengan tingkat pendidikan S2 yang mengajar pada tahun ajaran 2001/2002 sebanyak
574 dosen, untuk tahun 2002/2003 sebanyak 738, untuk tahun ajaran 2003/2004
sebanyak 739, dan untuk tahun ajaran 2004/2005 sebanyak 819, dosen dengan tingkat
pendidikan S3 yang mengajar pada tahun ajaran 2001/2002 sebanyak 248 dosen,
untuk tahun 2002/2003 sebanyak 267, untuk tahun ajaran 2003/2004 sebanyak 303,
dan untuk tahun ajaran 2004/2005 sebanyak 311, secara keseluruhan terlihat bahwa
terjadi kenaikan jumlah dosen di semua tingkat pendidikan dari tahun ke tahun
Sedangkan untuk politeknik negeri, pada tahun ajaran 2001/2002 dosen yang mengajar
dengan tingkat pendidikan D3 sebanyak 20 dosen, S1 sebanyak 221 dosen, S2 sebanyak
98, dan S3 sebanyak 13 dosen. Tahun ajaran 2002/2003 dosen dengan tingkat pendidikan
D3 (
Isi Selengkapnya
Sumber: Dit. TIE BPPT / Irfan |