Balai Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Balai IPTEKnet) BPPT
   
 IPTEK Translator
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi
 
 
Pencarian

Pencarian berdasarkan tanggal terbit
[dd-mm-yyyy]

Berita sebelumnya     |      Berita selanjutnya


Antara Bandung dan London yang menyongsong pengembangan kota dalam tatanan Industri Kreatif.
Jum'at, 16-07-2010

Kota London yang sekarang tengah berbenah diri guna menyambut Olimpiade London 2012 ternyata menggugah para perencana kota dan arsitek untuk memainkan peranannya dalam menjadikan ibu kota negeri Inggris menjadi kota yang lebih terbuka ramah bagi setiap orang “The Welcoming City”. Dan suatu pameran London Festival of Architecture 2010 yang digelar The Music Room, Mayfair pada tanggal 4 Juli yl dilangsungkan dalam rangka berancang-ancang menyongsong ajang akbar perlombaan olahraga berkelas dunia ini.
Dan sepantasnya Indonesia ternyata dapat cukup berbangga hati atas keberanian partisipasi keikutsertaan kelompok arsitek muda Indonesia yang tampil di ibu kota Industri Kreatif dengan menghadirkan rancangan instalasi ruangan pamer dengan judul “Tapak Keberagaman” ( Landscape Diversity ) yang mengetengahkan thema batik dalam desain kontemporer kekinian namun tetap terinspirasi muatan kekayaan budaya dan tradisi tanah air yang amat beragam serta sarat kearifan filosofi yang mengagumkan, sebuah karya instalasi Rizki Nindito dkk. dari kelompok Alur Design Group yaitu studio kreatif multi-disiplin yang terdiri dari himpunan arsitek dan perancang muda Indonesia yang berkiprah di London.
London dalam tatanan maraknya Industri Kreatif global berperan menonjol sebagai salah satu simpul utama yang mampu merepresentasikan kota beserta segenap elemen masyarakat didalamnya saling bersinergi hingga menjadi sumber daya hingga menumbuhkan industri kreatif yang menghidupi ekonomi nasional hingga setinggi 7,8% (2009) dari nilai GDP negeri Inggris.

Dalam takaran yang berlainan dibandingkan dengan kota London sebagai salah satu ibu kota dunia Industri Kreatif kota Bandung pun sekarang tengah bersiap menyambut ajang ArtePolis.3 yang akan digelar pada tgl 21-22-23 Juli yad diselenggarakan di kampus ITB.
Ajang pertemuan dan berkarya cipta dengan cara berbagi bersama dalam perencanaan pengembangan kota beserta pencitraannya ini berperan penting sebagai kolaborasi tidak hanya diantara kalangan arsitek dan perencana tata kota, namun lebih luas lagi dengan melibatkan berbagai kalangan ahli dari multi-disiplin keilmuan guna menelurkan rumusan dan penciptaan karya kreatif yang berkenaan dengan penataan lingkungan/kota dalam tatanan pembangunan bertatanan Industri Kreatif.
Berkilas balik kepada penyelenggaraan Arte.Polis.2 sebelumnya penyelenggara berhasil menghadirkan Mr. Charles Landry (Direktur COMEDIA) salah satu tokoh teras Internasional penggagas pengembangan ekonomi kreatif di Inggris selaku pembicara sesie utama. Dalam tataran kebijakan pun Menteri Perdagangan dan Perindustrian Dr.Marie Pangestu telah cukup melangkah maju dengan menggariskan sejumlah kebijakan pemerintah yang memetakan rincian sektor Ekonomi Kreatif dan disusul langkah Pemerintah yang menetapkan pembagian pengelolaan atas 14 (empat belas) sub-sektor Industri Kreatif Nasional, serta melibatkan antara lain Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk menggerakkan sektor industri TIK dan Muti-media.
Oleh karenanya untuk penyelenggaraan ArtePolis tahun 2010 yang kini memasuki “jďlďd ketďgá” diharapkan agar segenap pemangku kepentingan ---ABG : Akademisi (perguruan tinggi), Bisnis (usahawan swasta) dan Pemerintah(Government) kutipan dari istilah yang dipopulerkan Kusmayanto Kadiman Ph.D (“KK”) selaku Menristek yl--- dapat lebih mampu menelurkan rumusan yang benar-benar siap untuk diterapkan dan dilaksanakan guna menjadikan Kota Bandung sebagai simpul unggulan terdepan dalam tatanan dunia Industri Kreatif di tanah air.

Dan jangan pernah tertinggal pula untuk melibatkan seluas-luasnya khalayak masyarakat khususnya penduduk kota Bandung yang boleh jadi sebagian besar tanpa terlalu menyadari transformasi kota yang berbenah diri dalam menata kota menuju bertatanan Industri Kreatif, namun saat ini pun sehari-hari ternyata telah langsung mengalami realita kondisi keramaian lalu-lintas khususnya saat akhir pekan dan liburan panjang yang hampir pasti selalu berdampak kemacetan dimana-mana terutama yang berada di pusat-pusat keramaian (FO, distro, plaza / lokasi tempat hiburan, dll ) yang sungguh menyesakkan.
Padahal apabila kembali kepada hakekat dasar “Liveable Cities” kota yang merupakan habitat tempat tinggal bagi manusia untuk hidup bersama-sama untuk bekerja, bermain, dan berkarya-cipta sebagai salah satu cerminan dari peradaban manusia pada masanya. Dan tantangan yang muncul ditengah-tengah Abad Digital di abad ke-21 bagi kota Bandung dengan sejumlah cirian penting; populasi, mobilitas penduduk, dan aktivitas ekonomi yang meningkat tinggi; yakni adalah dengan berbenah diri dalam mengembangkan kota beserta meningkatkan kemakmurannya namun tetap dapat memelihara kenyaman hidup.


Sumber: Up-dates dari beragam situs / Rizal AK.