Riset terkini ungkapkan kemungkinan kekeliruan dalam putusan wasit pertandingan sepak bola. Rabu, 14-07-2010
Pesta tontonan olahraga paling akbar sejagat ajang kejuaraan sepakbola Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan usai sudah hari minggu 12 Juli yl. Seusai pertandingan final yang akhirnya dimenangkan kesebelasan Spanyol selaku juara baru sebagai muka baru yakni negeri kedelapan yang mampu meraih Piala Dunia selekas itu pula FIFA kemudian langsung mempublikasikan suatu laporan perihal kinerja wasit selama berlangsungnya kejuaraan World Cup 2010 yang menyajikan data bahwa wasit dinilai berkinerja tinggi: 96% keputusan adalah tepat !
Betapa pun khalayak penonton bola sejagat melalui siaran langsung televisi menjadi saksi bagaimana wasit Jorge Larrionda asal Uruguay gagal menghakimi dengan benar momen terjadinya gol bagi kesebelasan Inggris saat tendangan keras pemain tengah Frank Lampard yang telah melewati garis gawang setelah sebelumnya membentur mistar gawang lalu memantul kebawah namun kemudian dibuang keluar penjaga gawang lawan dari Jerman pada momen kritis jelang paruh babak pertandingan perdelapan final. Dan kesalahan fatal wasit pun ternyata terjadi pada hari dan babak pertandingan yang sama ketika wasit asal Italia Roberto Rosetti keliru membiarkan kejadian off-side berujung gol yang merugikan kesebelasan Meksiko ketika berhadapan melawan Argentina. Atas kedua kejadian fatal tersebut tidak luput presiden FIFA Sepp Blatter untuk mengakui kekeliruan wasit dan keputusan FIFA yang mengabaikan usulan penerapan “goal-line technology” sarana peralatan teknologi video guna membantu pengamatan gol di garis gawang, seraya meminta maaf kepada tim Inggris serta Meksiko yang menjadi pihak yang dirugikan.
Dan seakan untuk lebih menyingkapkan sisi lain keterbatasan wasit layaknya sesosok manusia yang dapat saja melakuan kesalahan manusiawi atas pandangan mata dalam pengamatan visual; maka Peneliti dari Universitas Pennsylvania di AS dalam hasil riset terkini yang dimuat dalam jurnal ilmiah on-line PLoS ONE menunjukkan betapa dalam pertandingan olahraga beregu layaknya sepakbola terdapat kecenderungan wasit untuk melakukan kerancuan berujung kekeliruan dalam penilaian atas terjadinya pelanggaran yang ternyata bergantung terhadap bagaimana arah pertandingan tengah berjalan dihadapan pandangan sosok wasit.
Dalam setiap kejadian untuk arah permainan yang tengah berlangsung dari sisi kanan mengarah kiri wasit cenderung untuk menghakimi kejadian pelanggaran yang lebih tinggi atau berarti lebih sering meniup peluit terjadinya pelanggaran jika dibandingkan untuk kejadian serupa untuk alur permainan yang berarah sebaliknya yakni dari kiri ke kanan. Penelitian oleh Alexander Kranjec, PhD, dkk berkeahlian bidang Neurology dari Universitas Pennsilvanya menyimpulkan hasil yang berselisih tersebut atas proses penilaian sebagai wasit dari sejumlah pertandingan sepakbola di kampus universitas di Amerika Serikat. Tatakala pengujian dengan sejumlah rekaman video pertandingan sepakbola berisikan aksi pelanggaran ---yang ditayangkan dari kanan-ke-kiri dan video yang sama yang ditayang ulang berarah sebaliknya dari kiri-ke-kanan--- dihadapkan kepada sejumlah partisipan maka hasil yang menunjukkan penilaian terjadinya pelanggaran bernilai 66,5% untuk arah aliran pergerakan permainan dari kanan-ke-kiri dan 63,3% untuk arah permainan cerminan adegan yang sama yakni pergerakan dari kiri-ke-kanan : ...left-to-right readers more likely to call foul for right-to-left attacks !
Pengujian partisipan guna berlaku sebagai wasit untuk menghakimi jalannya pertandingan sepakbola yang beradegan permainan yang saling menghadang hingga berpotensi pelanggaran ternyata menunjukkan terjadinya kecenderungan kekeliruan keputusan seperti temuan di atas, sesungguhnya tidaksemata-mata dalam hal putusan atas terjadi perlanggaran atau bukan pelanggaran semata namun juga dapat terjadi atas penilaian terjadinya sebuah gol. Guna menghindari terjadinya kekeliruan serupa di atas maka amat disarankan bagi wasit selama pertandingan untuk berupaya berlari diagonal memotong seperti berlari zig-zag terhadap alur arah aliran jalannya permainan yang tengah berlangsung, hingga pengmatan pertandingan dapat seseimbang mungkin diamati dari dua sisi yang berlainan.
Peneliti Alexander Kranjec sempat mengimbuhkan komentar betapa kerancuan penilaian inilah yang agaknya terjadi saat pertandingan babak penyisihan Piala Dunia 2010 antara kesebelasan AS melawan Slovenia; yakni saat wasit tidak mensyahkan gol di gawang Slovenia berhubung dianggap terjadi posisi offside. Gol untuk AS ini apabila tidak dibatalkan secara keliru oleh wasit akan menjadikan skor pertandingan menjadi 3-2 untuk kemenangan AS; dan bukannya 2-2 seperti skor hingga pertandingan berakhir.
Dalam analisanya Peneliti menyatakan kemungkinan kerancuan penilaian serupa ini berkaitan dengan faktor budaya asal muasal orang. Dalam budaya kebanyakan bangsa yang beraktivitas dominansi kiri-ke-kanan (seperti tercermin dalam budaya tulis dan baca) maka akan menjadikan temuan seperti demikianlah yang berkaitan dengan kerancuan penilaian wasit dalam pertandingan.
Oleh karenanya Peneliti berpandangan adalah sungguh amat menarik untuk lebih lanjut melakukan penelitian seperti di atas terhadap bangsa Arab atau Yahudi yang berbudaya tulis dan baca kanan-ke-kiri untuk nantinya melihat apakah hasilnya pun menyajikan penemuan yang serupa.
Sumber: Up-dates info PLoS ONE on-line. / Rizal AK.
|